“Apa tamu tamu ne digawe sitik. Itu kan duduknya enam baris, enam shaf ya. Apa mau dibikin dua saja. Supaya jalannya menjadi lebar atau bagaimana biar dinas yang evaluasi,” Imbuhnya.
Dia menyebut, saat ini tren masyarakat untuk menyaksikan secara dekat dan mengambil gambar langsung saat parade. Hal inilah yang menyebabkan jalanan berjubel dan menjadu kendala karena peserta SNC tak bisa lewat dan unjuk kebolehan.
“Trennya itu masyarakat mau mendekat, mau ambil video langsung. Jadi gak mau dia jauh-jauh. Dan pada berjubel di depan antara panggung dan tempat kita duduk. Jadi ya berdiri kita tadi , tapi keren banget loh, amazing,” ungkap dia.
Agustina berharap dengan adanya Semarang Night Carnival 2025 ini masyarakat bisa terhibur. Apalagi event ini meruapakan puncak Hari Jadi Kota Semarang ke-478.
“Tahun depan semoga ada lagi dengan kemasan lebih bagus. Dan peserta mungkin bisa bertambah banyak. Yang terakhir, semoga kreativitas anak anak muda bisa berkembang lebih lagi. Kalau ini dilirik oleh indistri dunia rentunya akan menjadi kota parwisata diperhitungkan dikancah dunia,” jelas Agustin.
BACA JUGA: Soto Vaganza Kota Semarang Bakal Jadi Event Tahunan, Diusulkan Warisan Budaya Tak Benda
Sementara itu, Kadisbudpar Kota Semarang, Wing Wiyarso mengatakan, Semarang Night Carnival memulai start dari titik nol kilometer dan berakhir dan finish di Balaikota Semarang.
“Ada sekitar 170 peserta dari dalam dan luar kota. Kami berharap kunjungan wisatawan baik nusantara maupun mancanegara semakin banyak di kota Semarang,” ujarnya.
Wing menyebut, temanya Semarang Night Carnival ke 13 kali ini yakni perisai nusantara. Dengan mengangkat empat sub tema sebagai upaya melindungi nusantara dari intervensi budaya budaya asing.
“Pertama ada bunga anggrek, burung Cendrawasih, burung Merak dan Penjor. Semua punya filosofi tersendiri,” kata dia.





