Kuliner

Serupa Tapi Tak Sama, Begini Kisah Burjo dan Warmindo Jadi Jujugan Anak Kos, Sama-Sama Buka 24 Jam!

×

Serupa Tapi Tak Sama, Begini Kisah Burjo dan Warmindo Jadi Jujugan Anak Kos, Sama-Sama Buka 24 Jam!

Sebarkan artikel ini
Burjo Warmindo
Burjo Gemilang di Jalan Wonodri Baru Nomor 4, Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang asli dari Jawa Barat. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sebagian besar mahasiswa di Semarang tentu tidak asing lagi dengan warung burjo atau warmindo. Sebut saja di daerah sekitar kampus Undip, Unnes, Udinus, hingga UIN Walisongo, kios warung burjo atau warindo pasti gampang kita temukan.

Warung burjo sendiri berasal dari singkatan dari bubur kacang hijau. Sementara warmindo adalah singkatan dari Warung Makan Indomie. Keduanya sama-sama identik dengan penjualnya yang berasal dari Jawa Barat. Namun, sebenarnya apa, sih, perbedaan antara keduanya?

Salah satu pemilik warung burjo di Semarang, Hendriansyah, pun berkesempatan menceritakan asal-usul keberadaan warung yang merajai DIY-Jateng itu. Menurutnya, warung burjo dan warmindo nyaris serupa.

Hanya saja, warmindo merupakan transformasi dari warung burjo yang lebih dulu eksis. Warung burjo pun awalnya hanya menjual menu bubur kacang hijau. Lambat laun, karena alasan ekonomi, warung burjo kemudian menjajakan menu lain, salah satunya mie instan.

BACA JUGA: Top 4 Burjo Enak di Semarang, Murah dan Hemat di Kantong Kamu!

“Burjo sama warmindo sama-sama khas dari Sunda juga. Tapi menurutku warmindo itu kan sekalian ngasih nama brand mie instan, jadi awalnya mungkin bentuk promosi juga,” ujar Hendriansyah saat beritajateng.tv temui, Selasa, 14 November 2023.

Ia sendiri tak tahu pasti mengapa merek Indomie yang kemudian dipilih untuk menjadi nama singkatan warung khas Jawa Barat itu. Padahal, tidak sedikit warmindo yang juga menyediakan merek mie instan lainnya seperti Mie Sedaap, Sarimi, dan lainnya.

Meski begitu, ia menyebut ada sedikit kedekatan antara pedagang burjo atau warmindo dengan pihak Indomie.

“Kalau dikirim produk mie gratis tiap bulan itu enggak, cuma memang ada program mudik gratis dari Indomie-nya untuk pedagang burjo atau warmindo setahun sekali,” lanjutnya.

Burjo dan Warmindo identik dengan buka 24 jam

Lebih lanjut, Hendri menceritakan bahwa awalnya warung burjo atau warmindo bahkan hanya menjual menu bubur kacang hijau dan mie instan saja.

Namun, karena beroleh tuntutan untuk mengikuti perubahan zaman, warung burjo kemudian menyediakan aneka menu tambahan. Misalnya seperti nasi goreng, nasi orak-arik, nasi ayam geprek, dan lainnya.

“Jaman dulu juga nggak nyediain nasi. Tapi karena sewa semakin mahal, harus tetap bertahan jadi apa aja yang bisa dijual,” katanya.

BACA JUGA: Mengunjungi Kedai Tarik Pa’Ngah, Kopitiam Anyar khas Melayu-Kalimantan di Kota Semarang

Adapun yang membuat burjo atau warmindo masih menjadi andalan anak kos hingga saat ini selain harganya yang terbilang murah adalah jam operasionalnya yang buka selama 24 jam penuh.

Di warung milik Hendri, misalnya. Ia total memiliki 5 karyawan yang terbagi ke dalam dua shift, yaitu siang dan malam. Sedangkan waktu paling ramai pengunjung adalah malam hari.

“Nggak pernah libur, tanggal merah bahkan lebaran buka terus, tutupnya paling kalau diusir,” ucapnya sembari tertawa. (*)

Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp