Jateng

Siap-siap, Jawa Tengah Akan Alami Kemarau Basah hingga Akhir Tahun 2025

×

Siap-siap, Jawa Tengah Akan Alami Kemarau Basah hingga Akhir Tahun 2025

Sebarkan artikel ini
kemarau basah
Ilustrasi mendung. (Josh Sorenson/Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Musim kemarau basah kemungkinan akan melanda Jawa Tengah selama tahun 2025.

Adapun musim kemarau basah ini bisa terjadi lantaran adanya dinamika atmosfer di wilayah Indonesia.

Hal itu terungkap oleh Prakirawan BMKG Stasiun Ahmad Yani Semarang, Gempita Icky Dzikrillah, saat beritajateng.tv jumpai langsung di kantornya, Jumat, 23 Mei 2025.

“Kalau melihat dari data yang ada mungkin bisa jadi seperti itu [kemarau basah] ya, karena seharusnya kita saat ini sudah mulai memasuki musim kemarau. Namun ada dinamika atmosfer yang membuat saat ini polanya itu masih seperti pancaroba,” ungkap Gempita.

BACA JUGA: Sumuk! Kota Semarang Pernah Capai Suhu 39,5 Derajat saat Kemarau, Ini Puncaknya Menurut BMKG

Gempita menuturkan, kemarau basah akan melanda wilayah Jawa Tengah secara merata. Hal itu, kata dia, terlihat dari persebaran hujan yang merata di setiap daerah di Jawa Tengah.

“Sebaran hujannya cenderung merata, hampir seluruh wilayah Jawa Tengah itu masih mengalami hujan walaupun memang tidak setiap hari. Beberapa hari terakhir pasti pernah terjadi hujan untuk di setiap wilayah, walaupun tidak berurutan,” terangnya.

Hujan lebat saat kemarau bisa turun di wilayah dataran tinggi

Gempita menuturkan, hujan dengan intensitas tertinggi terjadi di wilayah dataran tinggi dan pegunungan.

“Ada juga di beberapa wilayah lain ya seperti kemarin itu sempat terjadi banjir di Sukoharjo, kemudian juga di Magelang juga sempat kemarin,” ucapnya.

Selama musim kemarau ini, Gempita pun mengungkap potensi bencana alam hidrometeorologi yang bisa saja terjadi.

BACA JUGA: BMKG Peringatkan Hujan Lebat Mulai 17 Mei, Waspadai Banjir dan Longsor di Jateng

Terlebih, kata dia, anomali pada suhu muka air laut masih terjadi hingga akhir tahun. Hal itu menurutnya membuat hujan tetap turun meskipun musim kemarau.

“Kami imbau masyarakat untuk selalu waspada karena memang bencana hidrometeorologi itu bisa terjadi ketika potensi-potensi cuaca buruknya masih terlihat,” pungkasnya. (*)

Editor: Farah Nazila