“Momentum Ramadan sangat cocok untuk kegiatan kuliner. Ini bisa memancing pasar, menarik pengunjung, dan menghidupkan kembali denyut ekonomi kawasan sambil menunggu masuknya investor besar,” ujar Joko Widodo.
Ia menilai Plaza Simpang Lima masih memiliki potensi besar di masa depan karena terintegrasi dengan kawasan hotel dan berada di pusat kota. Bahkan, DPRD berharap kawasan tersebut dapat berkembang menjadi pusat aktivitas kota yang lebih modern.
“Mungkin sekitar tahun 2030, kawasan ini bisa menjadi tempat yang sangat istimewa bagi Kota Semarang jika ada investor besar yang masuk,” pungkasnya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno Da Silva, menyatakan kesiapanny untuk mengelola Plaza Simpang Lima jika aset tersebut sudah resmi BKAD serahkan.
“Kalau sudah berada di kami, tentu bisa kita upayakan agar tidak mangkrak. Misalnya dengan zona kuliner, yang penting ada aktivitas dan ada pendapatan untuk Pemkot,” ujarnya.
Amoy sapaan akrabnya, juga mendukung gagasan Komisi B untuk melibatkan UMKM dalam pemanfaatan Plaza Simpang Lima. Namun, ia menegaskan bahwa seluruh langkah tersebut masih menunggu proses penyerahan aset secara resmi.
“Kami belum menerima data lengkap karena memang belum ada penyerahan. Harapan kami, BPKAD bisa menyerahkan gedung ini secara satu kesatuan agar pengelolaannya bisa lebih optimal,” tutupnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





