Camat Gajahmungkur, Puput Widhiatmoko Hadinugroho, juga telah memberikan tanggapannya atas situasi tersebut. Ia mengaku prihatin karena persoalan orang tua berdampak langsung pada anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Widhiatmoko memastikan bahwa pihaknya tetap memprioritaskan hak pendidikan anak. Ia juga akan berkoordinasi dengan RT, lurah, dan kuasa hukum pemilik lahan untuk mencari solusi terbaik.
“Anak usia sekolah harus tetap sekolah. Kami akan usahakan agar aksesnya bisa dibuka, setidaknya sampai ada solusi jangka panjang,” ujarnya saat ditemui di lokasi yang sama.
Seperti yang diberitakan sebelumnya, video viral tersebut menunjukkan jalan utama yang biasa dilalui telah ditutup secara sepihak. Hal itu memaksa Juladi Boga Siagian, orangtua siswi di video tersebut, mencari jalur alternatif yang berbahaya, termasuk melewati bantaran sungai yang menjadi satu-satunya untuk akses berangkat sekolah anaknya.
BACA JUGA: Tanggapi Video Viral Siswi SD Semarang Berangkat Sekolah Lewat Bantaran Sungai, Camat: Karena Permasalahan Orangtua
Juladi, yang bekerja sebagai pemulung itu berharap ada penyelesaian adil yang tidak hanya mempertimbangkan legalitas administratif, tetapi juga kemanusiaan.
Menurut keterangan beberapa warga sekitar lokasi, penutupan akses ini merupakan buntut dari kasus persengketaan lahan antara Juladi dan Sri Rejeki yang terjadi sejak 2019. (*)
Editor: Farah Nazila





