Jateng

Tanggapi Video Viral Siswi SD Semarang Berangkat Sekolah Lewat Bantaran Sungai, Camat: Karena Permasalahan Orangtua

×

Tanggapi Video Viral Siswi SD Semarang Berangkat Sekolah Lewat Bantaran Sungai, Camat: Karena Permasalahan Orangtua

Sebarkan artikel ini
camat gajahmungkur // viral siswi semarang
Camat Gajahmungkur, Puput Widhiatmoko Hadinugroho. Senin, 28 Juli 2025. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Video viral seorang siswi SD di Semarang yang harus menyeberangi aliran sungai kecil demi berangkat sekolah menuai sorotan publik.

Diketahui, kejadian itu dilatarbelakangi konflik sengketa lahan antara warga bernama Juladi Boga Siagian dan pemilik sah tanah, Sri Rejeki, yang berujung pada penutupan akses jalan menuju sekolah.

Camat Gajahmungkur, Puput Widhiatmoko Hadinugroho, memberikan tanggapannya atas situasi tersebut. Ia mengaku prihatin karena persoalan orang tua berdampak langsung pada anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Di satu sisi, memang warga sudah merasa resah dengan keberadaan Pak Siagian karena hubungan sosialnya teranggap kurang baik. Tapi di sisi lain, tidak boleh mengabaikan hak anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan,” ujarnya saat meninjau lokasi di sekitar Jalan Lamongan Selatan II, Kelurahan Bendan Ngisor, Kecamatan Gajahmungkur, Senin, 28 Juli 2025 sore.

BACA JUGA: Viral Siswi SMK Sempat Hilang Saat Tektok, Mendaki Gunung Slamet, Begini Maksud Istilahnya

Menurutnya, penutupan akses jalan menuju sekolah dapat menimbulkan beban psikologis bagi anak, terutama jika mereka merasa terlibat dalam konflik yang seharusnya menjadi urusan orang dewasa.

“Anak ini bisa punya trauma atau tekanan batin karena jadi korban dari masalah orangtuanya. Ini yang tidak kami harapkan,” tegasnya.

Widhiatmoko menjelaskan bahwa kasus sengketa tanah tersebut sudah diputuskan oleh pengadilan, yang menyatakan bahwa lahan tersebut sah milik Sri Rejeki. Berdasarkan putusan per 17 Juli 2025, Juladi Boga Siagian seharusnya segera meninggalkan lokasi tersebut.

“Langkah ke depan, kami sudah bertemu Bu Sri Rejeki, dan insyaallah Kamis nanti pengacaranya akan datang. Kami akan koordinasi dengan RT, lurah, dan kuasa hukum untuk mencari solusi terbaik,” ungkapnya.

Ia juga memastikan bahwa pihaknya tetap memprioritaskan hak pendidikan anak. Pemerintah kecamatan telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang.

“Anak usia sekolah harus tetap sekolah. Kami akan usahakan agar aksesnya bisa dibuka, setidaknya sampai ada solusi jangka panjang,” tuturnya.

Camat Gajahmungkur itu berharap ketiga pihak, yakni Sri Rejeki selaku pemilik tanah, dan keluarga Juladi Siagian, serta warga sekitar dapat duduk bersama agar konflik tidak semakin meluas dan anak-anak tidak menjadi korban.

Sebelumnya, video viral tersebut menunjukkan bahwa jalan utama yang biasa dilalui telah ditutup secara sepihak. Hal itu memaksa Juladi dan keluarganya mencari jalur alternatif yang berbahaya, termasuk melewati bantaran sungai untuk akses berangkat sekolah anaknya.

BACA JUGA: BEM UNDIP Mundur dari BEM SI, Tegaskan Gerakan Mahasiswa Harus Lepas dari Panggung Politik

Menurut keterangan beberapa warga sekitar lokasi, penutupan akses ini merupakan buntut dari kasus persengketaan lahan yang terjadi sejak 2019.

Selain karena pihak Sri Rejeki memenangkan kasus di pengadilan, warga juga menyebut bahwa Juladi kurang bersosialisasi di lingkungan sekitar.

Sementara itu, pihak Juladi berharap ada penyelesaian adil yang tidak hanya mempertimbangkan legalitas administratif, tetapi juga kemanusiaan. (*)

Editor: Farah Nazila

 

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp