Dyah juga mengaku sependapat dengan pandangan yang menyebut persoalan utama bukan pada siapa yang berada di dalam gerbong. Melainkan pada kondisi sarana dan sistem operasional kereta itu sendiri.
“Yang harus kita pastikan adalah sistemnya sehat. Rangkaiannya sehat, gerbongnya sehat, semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Kalau sistemnya baik, maka risiko kejadian serupa bisa diminimalisir,” katanya.
Ia menegaskan bahwa laki-laki maupun perempuan sama-sama berhak mendapatkan rasa aman saat menggunakan transportasi publik.
Karena itu, menurutnya, solusi terbaik adalah evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan dan operasional perkeretaapian.
“Laki-laki bukan spek termen, perempuan juga bukan persoalan utama. Yang penting adalah bagaimana kita bersama-sama mencari tahu penyebab kejadian itu dan memperbaikinya,” tandasnya.
Dyah berharap polemik soal penempatan penumpang tidak berkembang menjadi perdebatan yang mengaburkan inti persoalan. Ia mengajak semua pihak untuk lebih fokus pada upaya pembenahan sistem agar tragedi serupa tak kembali terjadi di masa mendatang. (*)





