Gaya Hidup

Takut Ditanya Kapan Lulus dan Kapan Nikah? Kenali Rasa Cemas Saat Kumpul Lebaran

×

Takut Ditanya Kapan Lulus dan Kapan Nikah? Kenali Rasa Cemas Saat Kumpul Lebaran

Sebarkan artikel ini
social anxiety disorder
Ilustrasi. Takut ditanya saat kumpul lebaran menjadi salah satu indikasi social anxiety disorder. Sumber: freepik.

SEMARANG, beritajateng.tv – Banyak orang menantikan lebaran sebab momen tersebut menjadi waktu berkumpil bersama keluarga. Namun, bagi beberapa orang, kumpul Lebaran juga bisa menimbulkan rasa cemas dan takut (social anxiety disorder).

Lalu, apakah benar perasaan cemas dan takut selama lebaran berarti menandakan social anxiety disorder?

Dosen Psikologi Universitas Negeri Semarang (Unnes), Pradipta Christy Pratiwi, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa rasa cemas dan takut oleh individu selama lebaran merupakan bentuk emosi negatif.

Akan tetapi, ia tidak setuju bahwa perasaan cemas dan takut selama lebaran berarti sebagai social anxiety disorder. Menurutnya, hal tersebut tidak tepat sebagai suatu disorder karena rasa cemas dan takut hanya muncul pada momen tertentu saja, dalam hal ini lebaran.

“Sebenernya kalau sampai disorder itu tidak, jadi cemas dan takut itu memang valid sebagai emosi negatif. Tapi sampai kecemasan sosial itu belum tentu dan butuh pemeriksaan khusus dari professional,” jelasnya kepada beritajateng.tv, belum lama ini.

Mengatasi Social Anxiety Disorder

Mengenai perasaan cemas dan takut berkumpul dengan keluarga saat lebaran, karena munculnya pertanyaan-pertanyaan yang kemungkinan mengganggu, ia menyebut jika lebih tepat membahas tentang ‘coping’.

Untuk menghadapinya, seseorang harus mengontrol dirinya sendiri. Menurutnya, akan sulit berekspektasi terhadap orang lain. Maka dari itu, mengendalikan perasaan-perasaan yang muncul seperti sakit hati, sebal, dan benci nerupakan kunci utama.

“Okay ketika seperti itu, cari tau apa yang saya rasakan, kalau memang emosi negatif, pikiran itu apakah ada manfaatnya buat saya, kalau itu membuat saya semakin ngedown, berarti saya tidak izinkan pikiran itu mendominasi pikiran saya sehari-hari,” sarannya.

Kemudian, ia mengajak masyarakat agar tidak over-diagnose dan tidak mudah memberikan label kepada diri sendiri maupun orang lain. Sebab, mendiagnosa suatu kondisi psikologis merupakan tupoksi professional. Seperti psikiater atau psikolog yang memiliki surat izin praktik yang masih berlaku. Selain itu, telah berpraktik sesuai dengan kode etik.