Dia mencontohkan The Geysers di California, Amerika Serikat, yang merupakan salah satu kompleks geothermal terbesar di dunia. Berdasarkan data U.S. Geological Survey (USGS), The Geysers memiliki sekitar 18 pembangkit geothermal yang tersebar di area sekitar 78 kilometer persegi.
BACA JUGA: Gelar Konsolidasi, Aliansi Semar Gugat Tolak Rencana Proyek Geotermal Gunung Ungaran dan Telomoyo
Uli kemudian menggunakan luasan tersebut sebagai gambaran untuk menjelaskan kondisi yang menurutnya ideal bagi pengembangan geothermal di Indonesia. Di Jawa Tengah khususnya, gambaran jaraknya seperti Kota Semarang ke Kabupaten Boyolali.
“Belajar banyak pengalaman di luar negeri seperti di Amerika Serikat, tepatnya di California, The Geysers 78 kilometer persegi. Jadi bayangkan saja dari Semarang ke Boyolali kosong semua. Nah, itu baru bisa sangat ideal geothermal itu. Idealnya apa? Artinya tidak menyebabkan kerugian bagi masyarakat, penduduk sekitar,” katanya.
Uli Sebut Penegakan Hukum Lingkungan di Indonesia Lemah
Lebih lanjut, Uli menyoroti rencana pengeboran Gunung Ungaran yang kabarnya berada pada kedalaman sekitar 1.700 hingga 2.200 meter. Dia menilai pengembangan geothermal tidak hanya membutuhkan titik pengeboran, namun juga area lain untuk mendukung proses produksi listrik.
“Makanya saya tidak yakin itu pengeborannya sekitar 1.700 sampai 2.200 meter ke dalam tanah. Kalau itu pengeborannya sampai sedemikian rupa, untuk tempat mengumpulkan listriknya, dia kan butuh juga luasan wilayah lain. Tidak hanya titik bor itu,” ucap dia.
Kata Uli, persoalan yang perlu jadi perhatian tak cuma penggunaan teknologinya, namun juga kesiapan tata kelola dan pengawasan terhadap perusahaan terkait. Dia turut menyoroti penegakan hukum yang dia nilai masih menjadi persoalan dalam pengawasan lingkungan di Indonesia.
BACA JUGA: Soal PLTP Geotermal Gunung Ungaran, Legislator PKB Ingatkan Risiko Patahan di Sekitar Rawapening
“Saya bukan mau mengatakan saya setuju gitu ya, tapi melihat kita gitu ya. Disiplin kita kurang, kemudian tata kelolanya jelek, manajemennya apalagi, apa kita bisa masuk ke dalam untuk mengontrol perusahaan? Itu juga susah,” katanya.





