Pendidikan

Tak Lagi Manual, Guru SDN Gemah Semarang Belajar AI untuk Bikin Kuis dan Modul Ajar Praktis

×

Tak Lagi Manual, Guru SDN Gemah Semarang Belajar AI untuk Bikin Kuis dan Modul Ajar Praktis

Sebarkan artikel ini
Guru AI
Guru-guru SDN Gemah saat belajar AI untuk membantu membuat kuis, menyusun modul ajar, hingga merekap hasil penilaian secara otomatis. (Yuni Esa Anugrah/ beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Guru-guru SDN Gemah, Kota Semarang, yang sebelumnya terbiasa mengerjakan berbagai tugas secara manual kini diperkenalkan dengan teknologi kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).

Teknologi tersebut mulai mengubah cara para guru menyiapkan pembelajaran. Sebab, AI dapat membantu membuat kuis, menyusun modul ajar, hingga merekap hasil penilaian secara otomatis.

Salah satu pengajar SDN Gemah, Yani, mengaku sempat merasa bingung dan ragu ketika pertama kali diperkenalkan dengan AI.

Selama ini, ia lebih terbiasa menggunakan alat peraga dan metode pembelajaran secara manual. Namun, setelah mengikuti pelatihan dan mengetahui cara memanfaatkannya, pandangannya berubah.

BACA JUGA: Pengalihan Pegawai dan Guru P3K ke Pusat, DPRD Kabupaten Semarang Senang; Pangkas Beban APBD

“Awalnya memang bingung dan ragu karena belum memahami AI. Tetapi setelah memahami, ternyata AI sangat membantu dan memang dibutuhkan dalam dunia pendidikan,” ujar Yani, Selasa, 15 September 2026.

Ia menilai penggunaan berbagai platform AI juga dapat memperluas wawasan guru dalam menciptakan pembelajaran yang lebih menarik.

Setelah pelatihan, Yani berharap ada kegiatan lanjutan agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada praktik pelatihan, tetapi benar-benar diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.

“Harapannya ada tindak lanjut. Ilmu yang sudah didapat bisa langsung dipraktikkan di kelas agar siswa juga mengenal teknologi seperti Gemini yang terhubung dengan Google Sheets dan Claude,” pungkasnya.

Teknologi AI Tak Bisa Gantikan Peran Guru

Guru lainnya, Nora, juga merasakan manfaat tersebut. Meski sebelumnya sudah mengenal sejumlah platform seperti ChatGPT, Gemini, dan Canva, ia mendapatkan pengalaman berbeda saat menggunakan AI untuk membuat kuis interaktif dan modul ajar.

Baginya, salah satu bagian yang menarik adalah ketika kuis yang dibuat dapat berjalan secara otomatis sekaligus menghasilkan rekap nilai.

“Awalnya memang membingungkan saat praktik teknis. Tetapi ketika melihat hasilnya bisa berjalan otomatis dan rekapnya langsung muncul, rasanya sangat puas,” katanya.

Menurut Nora, penggunaan AI juga dapat memangkas waktu penyusunan perangkat pembelajaran. Jika sebelumnya membuat satu modul ajar secara manual membutuhkan waktu dua hingga tiga hari, proses tersebut dapat dipercepat dengan bantuan prompt yang tepat.

“Dulu membuat satu modul bisa dua sampai tiga hari karena diketik manual. Dengan AI, modul dan soal bisa dibuat jauh lebih cepat hanya dengan beberapa prompt,” jelasnya.

Sementara Nora mengingatkan bahwa aspek pendidikan yang berkaitan dengan karakter dan pendekatan emosional tetap membutuhkan kehadiran guru.

“AI hanyalah pendamping. Guru tetap memegang kendali utama karena siswa membutuhkan pembentukan karakter, nilai religius, tausiyah, dan pendekatan psikologis yang tidak bisa diberikan oleh AI,” tandas Nora.

BACA JUGA: Mahasiswa Undip Tanggapi Isu di Lingkup Perguruan Tinggi, Dari Penyampaian Aspirasi hingga Dugaan Korupsi

Di sisi lain, Ketua kelompok Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Prodi PGSD UPGRIS, Hidayah Adwi Susanti, mengatakan pelatihan tersebut berangkat dari semakin mudahnya akses terhadap teknologi AI yang dinilai dapat membantu guru menyelesaikan sejumlah pekerjaan pembelajaran secara lebih efisien.

“Guru SD membutuhkan alternatif kuis yang tidak hanya berupa soal tertulis, tetapi juga dapat memberikan pengalaman belajar yang interaktif dan menyenangkan,” kata Hidayah, Selasa, 15 September 2026.

Menurut Hidayah, kuis interaktif yang dibuat dengan bantuan AI tidak hanya digunakan untuk menguji siswa. Kuis tersebut juga dapat menjadi bagian dari asesmen formatif untuk mengetahui sejauh mana materi telah dipahami peserta didik.

“Dengan kuis interaktif berbasis AI, guru dapat memperoleh gambaran mengenai materi yang sudah dikuasai siswa maupun materi yang masih perlu diperkuat,” jelasnya.

Hidayah mengakui penerapan kuis interaktif berbasis AI masih memiliki sejumlah kendala. Karena itu, pelatihan tidak hanya berisi pengenalan teknologi, tetapi juga praktik agar guru memahami tahapan penggunaannya secara tepat.

Sebagai tindak lanjut, mahasiswa PPG PGSD UPGRIS juga menyiapkan Buku Saku Integrasi Kuis dengan AI. Buku tersebut berisi panduan penggunaan AI, contoh prompt, tahapan pembuatan kuis, serta tips penerapannya dalam pembelajaran. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp