Menurut Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si., anggota tim peneliti UGM, teknologi DAS bekerja dengan menangkap gelombang primer (P-wave) melalui kabel optik sebagai sensor. Yang muncul lebih dulu sebelum gelombang sekunder (S-wave) yang biasanya menyebabkan kerusakan.
BACA JUGA: TelkomGroup Bakal Gelar Digiland 2025, Hadirkan Lomba Lari Bertaraf Internasional, Festival Musik, dan Pasar UMKM
Data akan terintegrasi dengan sistem geospasial untuk memberikan peringatan dini beberapa detik hingga menit sebelum gempa utama mengguncang. Memberikan waktu kritis bagi masyarakat untuk melakukan evakuasi dini.
Lebih dari sekadar sistem mitigasi bencana, penerapan DAS juga memperkuat pengawasan terhadap Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL).
Teknologi ini memungkinkan Telkom memantau dan mendeteksi potensi gangguan pada jaringan kabel bawah laut yang sering terdampak oleh aktivitas alam maupun manusia.
Rata-rata terjadi 15 hingga 17 gangguan kabel laut per tahun, yang berdampak pada layanan digital nasional dan biaya pemulihan yang tidak sedikit.
Dengan sistem ini, Telkom dapat meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mengamankan aset infrastruktur vital secara preventif.
Telkom dan UGM saat ini tengah mempersiapkan uji coba sistem DAS pada jalur kabel optik antar pulau di wilayah rawan gempa seperti pantai barat dan selatan Indonesia.
Uji coba ini bertujuan menguji performa sistem dalam kondisi nyata sekaligus menyiapkan integrasinya ke dalam sistem peringatan publik nasional.
Kolaborasi ini juga meliputi penyusunan protokol data terbuka untuk mendukung riset serta kebijakan publik terkait mitigasi bencana.
Inisiatif ini menjadi representasi nyata komitmen Telkom dalam mendukung ketahanan bangsa melalui teknologi digital yang inklusif dan berdampak sosial.
Dengan mengedepankan kolaborasi antara industri dan institusi pendidikan, Telkom menghadirkan inovasi yang tidak hanya memperkuat jaringan komunikasi. Tetapi juga meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana alam. (*)
Editor: Elly Amaliyah





