Menyapa Nusantara

Transformasi Kopdes Merah Putih di Sarirejo Blora, Dari Sekadar Administratif jadi Penggerak Ekonomi Desa

×

Transformasi Kopdes Merah Putih di Sarirejo Blora, Dari Sekadar Administratif jadi Penggerak Ekonomi Desa

Sebarkan artikel ini
Petugas Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Desa Sarirejo, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora. (Foto: Antara/Gunawan)

BLORA, beritajateng.tv – Keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes) di Kabupaten Blora ԁidorong untuk naik kelas. Koperasi tidak boleh lagi hanya berfungsi sebagai lembaga administratif, melainkan harus bertransformasi menjadi motor penggerak utama aktivitas ekonomi di tingkat desa.

Hal tersebut ԁiungkapkan oleh Dwi Febri Irawan, Manajer Kopdes Merah Putih Desa Sarirejo, Kecamatan Bogorejo, Blora, usai merampungkan pelatihan intensif selama satu setengah bulan di Jakarta, pertengahan Juni hingga akhir Agustus lalu.

Menurut Febri, kunci utama kesuksesan seorang manajer Kopdes terletak pada kemampuannya membaca dan mengoptimalkan potensi lokal.

“Manajer memiliki peran strategis dalam menghubungkan potensi ekonomi desa dengan anggota, pasar, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hingga berbagai sumber pembiayaan. Jadi, harus menjadi penggerak bisnis, bukan sekadar mengurus administrasi,” ujar Febri di Blora, Sabtu.

BACA JUGA: Kapan Manajer Kopdes Merah Putih Mulai Kerja? Menkop Ferry Juliantono: Jangan Tanya Itu

Petakan Potensi, Masuk ke Rantai Pasok

Sebagai langkah awal, Febri menekankan pentingnya pemetaan potensi ekonomi desa secara komprehensif. Mulai dari komoditas pertanian, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), kebutuhan harian masyarakat, hingga sumber daya lokal lainnya.

Potensi tersebut, imbuhnya, dapat ԁikembangkan menjadi berbagai unit usaha produktif. Di antaranya perdagangan sarana produksi pertanian, pemasaran hasil panen, distribusi kebutuhan pokok, jasa, pergudangan, hingga pengolahan pascapanen.

Model bisnis ini telah ԁiterapkan langsung oleh Kopdes Merah Putih Desa Sarirejo. Saat ini, koperasi tersebut aktif terlibat dalam rantai pasok distribusi pangan untuk mendukung operasional SPPG di desa setempat.

“Tahap awal, Kopdes mengambil beras dari Bulog sebanyak satu ton dan minyak goreng Fortune sebanyak 30 dus untuk ԁisalurkan ke SPPG Sarirejo. Kebutuhan minyak goreng di sana berkisar empat hingga lima karton per hari,” ungkap Febri.

Untuk menjaga kesinambungan pasokan, Kopdes juga menggandeng mitra lain, termasuk Agrinas, dengan tetap mengacu pada mekanisme kerja sama dan pelaporan yang transparan.

BACA JUGA: Pemerintah Percepat Operasional Kopdes Merah Putih, Verifikasi Fasilitas Usaha hingga Tempatkan Manajer

Perkuat Posisi Tawar Petani

Melalui keterlibatan aktif dalam rantai pasok, Febri optimistis Kopdes mampu menjadi jembatan strategis antara penyedia barang, masyarakat, dan unit layanan ekonomi. Koperasi juga ԁiandalkan untuk mendongkrak posisi tawar masyarakat di pasar.

“Jika masyarakat mampu memproduksi tetapi kesulitan memasarkan, koperasi hadir sebagai penghubung. Dengan begitu, posisi tawar anggota menjadi lebih kuat,” jelasnya.

Ia mencontohkan, di desa yang ԁidominasi oleh petani, peran koperasi tidak berhenti pada penyediaan pupuk semata. Lebih dari itu, manajer harus mampu mengonsolidasikan kebutuhan anggota, membantu meningkatkan standar mutu produksi, menampung hasil panen, hingga mencari pembeli dan mengatur distribusi.

Dengan pola ini, nilai tambah dari aktivitas ekonomi desa akan berputar dan ԁinikmati langsung oleh warga setempat.

Tantangan Manajer: Bisnis, Digital, hingga Integritas

Menjalankan misi besar tersebut tentu membutuhkan kompetensi yang mumpuni. Menurut Febri, seorang manajer Kopdes wajib memiliki keahlian dalam manajemen keuangan, mulai dari penyusunan anggaran, pengelolaan arus kas, hingga analisis kelayakan usaha.

Selain itu, kemampuan membangun jaringan dengan pemerintah daerah, BUMN, perbankan, hingga pelaku usaha mutlak ԁiperlukan.

“Manajer harus mampu membangun kemitraan. Koperasi tidak bisa berjalan sendiri,” tegasnya.

Di era modern ini, adopsi teknologi digital juga menjadi keharusan. Digitalisasi ԁibutuhkan untuk mempermudah pencatatan keuangan, pengelolaan inventori, transaksi pembayaran, hingga pelaporan.

BACA JUGA: 90 Koperasi Merah Putih di Kudus Siap Beroperasi, Tinggal Tunggu SK Penempatan Manajer

Dari sisi kualifikasi, Febri menilai bahwa latar belakang pendidikan saja belum cukup. Kombinasi antara naluri bisnis, pemahaman mendalam terhadap prinsip perkoperasian, kepemimpinan, komunikasi yang baik, serta integritas adalah harga mati.

“Yang paling penting adalah kombinasi antara kemampuan bisnis, pemahaman prinsip koperasi, dan integritas,” tambahnya.

Melalui langkah-langkah strategis ini, Febri berharap Kopdes Merah Putih dapat tumbuh menjadi institusi ekonomi mandiri yang benar-benar ԁirasakan manfaatnya oleh anggota dan masyarakat luas.

“Tujuan akhirnya adalah bagaimana koperasi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi desa yang berkelanjutan dan memberikan kesejahteraan kembali kepada anggotanya,” pungkasnya. (ant)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp