Wiji mulai merintis bisnis rental PS sejak tahun 2012. Berawal dari 3 unit PS, kini ia telah mengelola lebih dari 30 unit PS dan 15 di antaranya berbentuk PS portable yang tersebar di sejumlah kafe di Semarang, salah satunya di Anak Panah Kopi Gajah Mada.
Salah satu pengguna PS portable, Habibi Zacki, mengaku bermain PS menjadi salah satu cara melepas lelah dari pekerjaan.
“Biasanya seminggu sekali nongkrong sambil main PS di kafe. Kadang juga saya sewa buat bawa pulang dan main di rumah,” katanya.
BACA JUGA: Tren Anak Tiba-tiba Sakit Rahang Gegara Ngegame Berjam-jam, Kok Bisa?
Menurut Habibi, inovasi PS portable ini sangat membantu para penggemar PS untuk menyalurkan hobinya.
“Kalau portabel ini kan bisa bawa ke mana saja. Kalau butuh buat nyewa juga bisa bawa ke mana saja,” ucapnya.
Habibi memilih menyewa PS karena harga yang murah namun tetap menyuguhkan permainan terbaru.
“Kalau di persewaan kita mau upgrade game terbaru tinggal bilang sama yang punya sewanya, [sedangkan] itu sudah langsung upgrade game-nya terbaru. Kalau punya sendiri kan sibuk juga setiap harinya jadi kalau mau upgrade kan juga butuh waktu juga,” tuturnya.
Harga terjangkau, persewaan selama musim liburan meningkat
Wiji yang berusia 39 tahun itu menyebut musim liburan sekolah ini meningkatkan permintaan sewa PS portable. Biasanya, ibu-ibu kerap menyewa untuk anaknya mainkan di rumah.
Selama musim liburan ini persewaan mengalami kenaikan sebesar 80 persen. Apalagi dengan adanya diskon-diskon hingga 20 persen untuk pelanggan.
Untuk harga sewa PS4 yakni Rp200 ribu per hari atau Rp20 ribu per jamnya. Wiji pun menyewakan PS5 dengan harga Rp350 per harinya.
BACA JUGA: Daftar Game Lokal yang Sudah Go International, Mau Tau Apa Saja?
Menurut Wiji, risiko penyewaan PS portable ini kebanyakan berasal dari konsol game yang rusak. Namun, secara keseluruhan unit masih aman.





