SEMARANG, beritajateng.tv – Tingginya temuan kasus HIV di Kota Semarang kembali menjadi perhatian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang. Bahkan ada laporan dari warga jika salah satu tempat indekos di Peleburan, menjadi base camp komunitas gay tinggal.
Hingga Mei 2026, Dinas Kesehatan Kota Semarang mencatat sebanyak 240 kasus baru HIV melalui layanan skrining dan deteksi dini dari berbagai fasilitas kesehatan.
Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Siti Roika, menilai kasus HIV yang meningkat harus menjadi alarm bagi seluruh pihak. Terutama untuk memperkuat langkah pencegahan, terutama di kalangan remaja, mahasiswa, dan kelompok usia produktif.
“Berdasarkan informasi yang kami terima, sebagian kasus berasal dari warga luar daerah yang tinggal di Semarang untuk bekerja maupun kuliah. Karena itu pendekatan edukasi dan pembinaan harus kita perkuat agar perilaku berisiko dapat kita cegah sejak awal,” ujar Roika.
Data Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan kelompok risiko dengan proporsi temuan tertinggi berasal dari laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL) sebesar 44 persen.
Menyusul pasien Tuberkulosis (TBC) sebanyak 12 persen, pasangan berisiko tinggi 11 persen, populasi umum 11 persen. Pasien Infeksi Menular Seksual (IMS) 9 persen, pelanggan pekerja seks 5 persen, dan wanita pekerja seks 2 persen.
“Kemarin saya konfirmasi ke Dinkes, tingginya kasus tersebut berasal 40 persen dari pendatang, dan 60 persennya warga Semarang,” kata Ika, sapaan akrabnya.
BACA JUGA: Polisi Dalami Laporan Dugaan Ancaman oleh Kepala Disdag Semarang, Status Masih Aduan
Ika menerangkan jika anyak pendatang yang merupakan mahasiswa dan pekerja terjangkit HIV karena efek dari pergaulan bebas. Untuk itu, pihaknya meminta Pemkot getol melakukan pembinaan kepada remaja sebagai langkah preventif.
“Sampai saat ini langkah preventif dari beberapa dinas belum terlihat, pergaulan bebas harus menjadi konsen. Basic pointnya ada di keluarga yakni DP3A, Dinas Pengendalian Penduduk dan KB, Dinas Kesehatan di mana bina remaja harus kita kuatkan,” bebernya.
Dia meminta agar Dinas Kesehatan bisa melakukan mitigasi, apalagi kasus HIV di Semarang yang tertinggi di Jateng. Hal ini karena pergaulan bebas sebagian mahasiswa pendatang, mulai dari LSL yang sudah mewabah, bahkan tinggal bersama di sebuah rumah indekos.
Ia bahkan sempat mendapatkan laporan dari salah satu warga, yang menyebut jika ada salah satu rumah indekos di Peleburan, menjadi tempat tinggal atau base camp kaum LSL.
“Saya sempat mendapatkan laporan, ada rumah kos yang dijadikan base camp. Untuk itu Pemkot harus bergerak untuk melakukan mitigasi. Kita juga akan konfirmasi langsung dengan pihak-pihak terkait,” tegasnya.
Selain itu, pihaknya meminta aturan tegas terkait fenomena peningkatan angka HIV di Semarang harus menjadi perhatian. Apalagi LGBT, terbukti menjadi penyumbang angka HIV di Semarang.
“Kalau agama memang melarang, untuk itu harus ada aturan tegas dari pemerintah agar fenomena ini bisa ditekan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam menerangkan temuan kasus yang mengalami peningkatan ini, terjadi karena Pemkot gencar melakukan skrining sebagai langkah pencegahan.
“Kenaikan kasus ini terjadi karena Dinas Kesehatan Kota Semarang gencar melakukan layanan skrining dan deteksi dini. Berupa layanan tes HIV di faskes dan kelompok masyarakat yang memiliki resiko,” kata Hakam. (*)





