SEMARANG, beritajateng.tv – Slow living Gen Z menguat sebagai respons anak muda terhadap tekanan hidup modern. Generasi Z mulai merasa lelah dengan ritme serba cepat. Tuntutan produktivitas tinggi sering berbenturan dengan kesehatan mental. Melalui pendekatan ini, Gen Z berupaya hidup lebih sadar serta seimbang.
Fenomena tersebut terlihat dari perubahan rutinitas harian, banyak anak muda mengurangi multitasking berlebihan. Mereka memilih fokus penuh pada satu aktivitas.
Gerakan slow living Gen Z tidak mendorong kemalasan, tetapi konsep ini menekankan kesadaran dalam setiap tindakan. Aktivitas sederhana dilakukan dengan penuh perhatian. Nilai utama terletak pada kualitas pengalaman. Pendekatan ini membantu Gen Z mengenali batas diri.
BACA JUGA: Sosok Sitok Srengenge, Sastrawan Kasus Kekerasan Seksual yang Foto Bareng Sal Priadi Bikin Heboh
Kebiasaan makan menjadi contoh paling nyata. Banyak anak muda mulai makan tanpa gangguan gadget. Nutrisionis Andi Prakoso menilai kebiasaan tersebut berdampak positif. “Tubuh mencerna lebih optimal saat pikiran fokus,” kata Andi. Sensasi rasa juga menjadi lebih jelas serta memuaskan.
Selain itu, jeda antar aktivitas mulai mendapat tempat. Gen Z tidak lagi langsung berpindah tugas. Mereka memberi ruang napas singkat bagi tubuh. Praktisi kesehatan kerja Maya Lestari menilai jeda meningkatkan kinerja. “Otak bekerja lebih segar setelah istirahat singkat,” tutur Maya.
BACA JUGA: Pemusik asal Semarang Ini Kenalkan Sosok Bung Karno ke Gen Z Lewat Lagu Reggae
Pengaruh Slow Living Gen Z terhadap Pola Hidup
Penerapan slow living juga mengubah cara memandang produktivitas. Banyak anak muda menolak kesibukan tanpa makna. Mereka memilih sedikit pekerjaan bernilai tinggi. Pendekatan tersebut memberi kepuasan jangka panjang. Fokus hidup menjadi lebih terarah.
Relasi sosial juga ikut mengalami pergeseran signifikan. Gen Z lebih memilih hubungan mendalam. Lingkar pertemanan kecil terasa lebih suportif. Sosiolog Arif Nugroho menilai pola ini semakin relevan. “Kedalaman relasi memperkuat kesehatan emosional,” ucap Arif.
BACA JUGA: Absen Pesta Kembang Api, Ini Agenda Seru Malam Tahun Baru di Hotel-Hotel Kota Semarang
Keberanian berkata tidak juga menjadi ciri khas. Gen Z menjaga batas pribadi dengan tegas. Penolakan tidak lagi dianggap kegagalan sosial. Sikap ini sejalan dengan nilai slow living gen z. Waktu serta energi menjadi lebih terjaga.
Nilai utama gerakan ini terletak pada ketenangan batin. Hidup bermakna tidak selalu identik dengan kecepatan. Setiap individu memiliki ritme keberhasilan berbeda. Gen Z mulai menerima proses personal tanpa perbandingan berlebihan. Kesadaran tersebut menumbuhkan rasa cukup. (*)













