Jateng

Ubah Pola Kelola Sampah, DLHK Jateng Gandeng Pabrik Semen Serap Sampah jadi Bahan Bakar

×

Ubah Pola Kelola Sampah, DLHK Jateng Gandeng Pabrik Semen Serap Sampah jadi Bahan Bakar

Sebarkan artikel ini
DLHK Sampah
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, saat dijumpai di Kantor DPRD Provinsi Jawa Tengah, Kota Semarang, Selasa, 6 Januari 2026 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

Sejumlah daerah bahkan telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pabrik semen untuk penyerapan RDF.

BACA JUGA: Dana Operasional RT Semarang Terserap Rp253,9 Miliar, 464 RT Pilih Tak Ambil

“Yang sudah mengajukan misalnya Purbalingga, MoU dengan Semen Bima. Kemudian Jepara dan Rembang dengan Semen Gresik yang ada di Rembang, termasuk Kabupaten Blora. Wonogiri dan Karanganyar juga sudah MoU dengan Indocement yang ada di Grobogan,” ungkapnya.

Menurut Widi, kapasitas serapan RDF di pabrik semen cukup besar dan bervariasi antarwilayah. Ia menegaskan, sistem pengolahan RDF tetap harus dibarengi pengurangan sampah dari hulu.

“Berbeda-beda. Misalnya Semen Bima bisa sampai 800 ton per hari, Indocement juga bisa sekitar 800 ton per hari. Harapannya dengan pola ini sudah ada pengurangan di hulu. Yang organik diolah jadi kompos, yang anorganik bisa didaur ulang. Jadi yang masuk TPA hanya residu saja,” katanya.

Widi menekankan, kebijakan penanganan sampah saat ini tidak lagi berorientasi pada perluasan TPA.

“Bukan perluasan TPA, tapi transformasi. Dari TPA menjadi TPST. Di situ ada sistem dan mesin pengolahan sampah,” tegasnya.

Kota Semarang Disiapkan PLTSa, Sampah Diolah Jadi Energi Listrik

Untuk Kota Semarang, Widi menyebut penanganan sampah akan diarahkan ke fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

Ia menjelaskan, mekanisme PLTSa yang direncanakan berbeda dengan sistem sebelumnya yang dinilai kurang produktif.

“Kalau di Semarang nanti aglomerasi. Sampah masuk ke fasilitas pengolahan, kemudian terolah menjadi energi listrik. Nanti ada satu sistem yang mengolah sampah minimal 1.000 ton per hari untuk diubah menjadi energi listrik. Listriknya bisa masuk ke PLN,” katanya.

Terkait teknologi, Widi menyebut fasilitas tersebut akan menggunakan teknologi insinerator. Sementara untuk pendanaan, Widi menyatakan proyek tersebut akan mendapat sokongan pemerintah pusat.

“Teknologinya insinerator. Kalau yang ini [pembiayaan] dari pusat,” pungkasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp