“Jangan dilarang serta merta karena itu unik dan khas, belum tentu ada di kota lain. Tapi ketatkan pengamanannya aja. Kan sekarang ada pengamanan sudah canggih pengamanan ini bisa dilakukan,” bebernya.
Siapkan sirine dan petugas penjaga di bendungan Banjir Kanal Barat
Lebih lanjut, Rukardi melihat viralnya Bendungan Pleret dapat menjadi peluang wisata murah meriah. Sebab, aksi seluncuran memang telah menjadi tradisi yang sudah lama berjalan dan bisa menjadi daya tarik di Kota Semarang.
Hanya saja, ia tetap menekankan pentingnya sistem pengamanan untuk mengantisipasi air yang datang dari hulu. Ia mengusulkan adanya sirine yang akan berbunyi jika debit air di hulu sudah meninggi.
“Kalau debit di hulu sudah cukup tinggi akan terdengar sirine, itu kan menurut saya saat ini sangat mudah ya teknologi. Jadi kalau hulu banjir sinyal langsung disampaikan ke bendungan di pasang sirine,” ucap Rukardi.
Terkait adanya anggota TNI yang berusaha membubarkan masyarakat yang sedang bermain seluncuran, Rukardi menyayangkan hal tersebut. Sebab, jauh sebelum viral saat ini, Bendungan Pleret sudah menjadi wahana sehari-hari bagi masyarakat sekitar.
Kendati demikian, karena membludaknya animo masyarakat umum, ia pun meminta pemerintah dan petugas setempat untuk meningkatkan pengamanan.
“Hari gini teknologi sudah maju, semestinya bisa sistem pengamanan tepat. Artinya, selain teknologi sinyal tanda bahaya juga harus ada petugas khusus yang mengatur,” tandas Rukardi. (*)
Editor: Farah Nazila