Gaya Hidup

Viral Tren Stop The Wedding! Psikolog Ungkap Pergeseran Pandangan Anak Muda soal Pernikahan

×

Viral Tren Stop The Wedding! Psikolog Ungkap Pergeseran Pandangan Anak Muda soal Pernikahan

Sebarkan artikel ini
Nikah Massal Gratis
Keseruan 10 pasang pengantin saat mengikuti nikah massal yang diprakarsai oleh Linggajaya WO dan sejumlah vendor pernikahan di Damai Residence, Rabu, 10 Juli 2024. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

Dia menilai perubahan tersebut, menunjukkan bahwa masyarakat mulai memberikan ruang lebih besar bagi individu untuk menentukan jalan hidupnya sendiri.

Pernikahan pun tidak lagi harus berlangsung hanya karena tuntutan usia, keluarga, atau lingkungan sosial.

Memilih Melajang juga Memiliki Konsekuensi

Irnida mengatakan, keputusan untuk tidak menikah merupakan pilihan personal yang perlu dihormati. Setiap orang memiliki pertimbangan berbeda dalam memandang hubungan, keluarga, dan tanggung jawab setelah menikah.

Bagi sebagian orang, kata dia, pernikahan mungkin menjadi bagian penting dari kehidupan. Akan tetapi bagi yang lain, kehidupan tanpa pasangan justru lebih sesuai dengan keyakinan dan kebutuhan mereka.

“Menikah itu kan sekali lagi pilihan. Jadi buat mereka, itu sesuai dengan keyakinan mereka. Sama seperti dia mau punya keyakinan bahwa aku enggak mau nikah, karena mungkin dia punya penilaian tersendiri bahwa menikah itu mungkin akan menjadi beban,” bilang Irnida.

Dia mengatakan, adanya kekhawatiran terhadap tanggung jawab setelah menikah juga dapat menjadi pertimbangan seseorang untuk tetap melajang. Termasuk pertimbangan ketika memiliki anak.

BACA JUGA: ROOMS INC Semarang Hadirkan Paket Pernikahan Elegan Harga Terjangkau, Cocok untuk Lamaran hingga Resepsi

Meski demikian, Irnida mengingatkan bahwa keputusan tersebut perlu ada penyertaan kesiapan menghadapi konsekuensinya. Oleh karena, pilihan untuk tidak menikah di Indonesia masih kerap berhadapan dengan tekanan sosial.

Seseorang mungkin harus menghadapi pertanyaan dari keluarga, komentar lingkungan, hingga anggapan bahwa hidup belum lengkap tanpa pernikahan.

“Artinya mereka siap dengan konsekuensinya ketika tidak menikah. Siap enggak nanti dengan cibiran orang, omongan di masyarakat, dengan keluarga mungkin, omongan dari orang tua, ‘Kok kamu enggak nikah, nanti kan apa kata orang?’” katanya.

Keluarga Perlu Belajar Menerima Pilihan Hidup

Menurut Irnida, tantangan bagi mereka yang memilih tidak menikah bukan hanya terletak pada keputusan pribadi. Akan ttapi juga bagaimana lingkungan sekitar dapat menerima pilihan tersebut.