Nasional

Waspada! Modus Baru Rekrutmen Terorisme Sasar Anak Lewat Game Online

×

Waspada! Modus Baru Rekrutmen Terorisme Sasar Anak Lewat Game Online

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi anak bermain game di ponsel. (Pexels/Pixabay)
Ilustrasi anak bermain game di ponsel. (Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Modus baru rekrutmen terorisme kini menyasar anak-anak dan remaja melalui game online serta media sosial.

Temuan itu keluar setelah BNPT memeriksa pengungkapan besar oleh Densus 88 Antiteror terkait keterlibatan 110 anak berusia 10 hingga 18 tahun dalam jaringan ekstrem.

Kepala BNPT, Komjen Eddy Hartono, menjelaskan bahwa jaringan Jamaah Ansharut Daulah menjalankan strategi terarah untuk menjangkau calon anggota muda.

Ia menegaskan bahwa pola komunikasi digital menjadi pintu masuk utama perekrut. “Jaringan itu memakai game online serta YouTube untuk mendekati anak-anak,” ujar Eddy saat memberikan paparan di Hotel Sultan, Jakarta Pusat.

Ia juga menambahkan bahwa perekrut memanfaatkan fitur percakapan dalam permainan digital untuk membangun hubungan personal.

BACA JUGA: Maraknya Artis di DPR, Pengamat Soroti Rekrutmen Parpol, Politik Uang, dan Biaya Pemilu

Fitur seperti private chat dan voice chat membuka ruang komunikasi tertutup yang lebih intensif. “Mereka memanfaatkan percakapan pribadi sebagai jalur rekrutmen terorisme,” ungkap Eddy.

Selain itu, ia menjelaskan pola kedua yang memanfaatkan platform seperti TikTok. Konten berisi simbol tertentu didorong kepada target yang menunjukkan kesamaan pandangan.

Setelah itu, para remaja diarahkan menuju grup tertutup di Telegram atau WhatsApp. “Di ruang tertutup itu, mereka mulai melalui tahapan doktrin. Dalam psikologi, itu disebut normalisasi perilaku,” jelas Eddy.

Bahaya Rekrutmen Terorisme di Dunia Digital

Kepala BNPT juga memberi penekanan bahwa proses rekrutmen terorisme berlangsung sangat halus. Anak-anak sering tidak menyadari bahwa mereka terlibat dalam jaringan berbahaya. Karena itu, ia mengimbau orang tua lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak.

Sebelumnya, Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, menyampaikan bahwa 110 anak itu tersebar di 23 provinsi di Indonesia. Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat.

“Kami melihat mereka terekrut melalui media sosial. Orang tua perlu menjaga komunikasi terbuka dengan anak,” ucap Trunoyudo.

BACA JUGA: DPRD Semarang Soroti Rekrutmen PPPK, Dorong Penguatan Proses Seleksi Berbasis Kompetensi

Ia menambahkan bahwa Polri dan Densus 88 terus bergerak untuk memutus rantai rekrutmen. Menurutnya, pengawasan bersama menjadi kunci dalam menghadapi ancaman yang berkembang cepat melalui dunia digital. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp