Jateng

Wilayah Pinggiran Semarang Minim Hidran, Warga Mijen dan Gunungpati Khawatir Risiko Kebakaran

×

Wilayah Pinggiran Semarang Minim Hidran, Warga Mijen dan Gunungpati Khawatir Risiko Kebakaran

Sebarkan artikel ini
Miris!! Dari 79 Hidran di Kota Semarang, Hanya 10 yang Berfungsi
Ilustrasi hidran untuk bahan baku air saat terjadi kebakaran. (Foto: Freepik)

SEMARANG, beritajateng.tv – Minimnya fasilitas hidran di sejumlah wilayah pinggiran Kota Semarang memicu kekhawatiran warga terhadap risiko kebakaran. Kecamatan Mijen dan Gunungpati menjadi dua kawasan yang disebut masih belum memiliki titik hidran, padahal fasilitas tersebut krusial untuk mendukung kerja pemadam kebakaran saat kondisi darurat.

Warga Kecamatan Mijen, Faris Fardianto, mengungkapkan bahwa sejak lama wilayah tempat tinggalnya memang tidak memiliki hidran. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan absennya sarana penunjang pemadaman kebakaran tersebut.

“Memang enggak ada di Mijen. Kalau kebakaran paling ambil dari danau BSB atau sumber air lainnya. Tapi kalau kebakarannya besar dan masuk-masuk kampung, ya pasti repot,” ujar Faris pada Jumat, 9 Januari 2026.

Kondisi tersebut membuat warga hanya bisa bergantung pada sumber air alami yang jaraknya tidak selalu dekat dengan lokasi kebakaran. Faris menilai, situasi ini sangat berisiko jika terjadi kebakaran berskala besar di area permukiman.

BACA JUGA: Hidran Damkar di Majapahit Kena Cor Proyek Jalan, PDAM Semarang Gerak Cepat Reposisi

Ia pun berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang segera mengambil langkah konkret dengan menyediakan hidran di wilayah pinggiran seperti Mijen. Menurutnya, potensi kebakaran tidak hanya mengintai kawasan pusat kota.

“Wilayah pinggiran perlulah buat jaga-jaga. Pemerintah perlu menyiapkan fasilitas buat antisipasi,” katanya.

Selain persoalan ketiadaan hidran di Mijen, Faris juga menyoroti kondisi hidran di wilayah lain. Ia menyebutkan, di kawasan Semarang Utara, tepatnya sekitar Stasiun Tawang, hidran justru ada namun sebagian tidak dapat difungsikan.

“Rumahku daerah Layur malah lebih kacau, ada hidran tapi ada yang enggak berfungsi di daerah sana. Soalnya besinya pada dicolong,” ungkap Faris.

Warga Gunungpati Dorong Pemkot Hadirkan untuk Cegah Kebakaran di Permukiman Padat

Keluhan serupa juga datang dari Febri, warga Kecamatan Gunungpati. Ia mendorong Pemkot Semarang agar segera menghadirkan fasilitas hidran sebagai langkah pencegahan kebakaran, terutama di kawasan permukiman padat.

“Kalau bisa segera diadakan, karena sangat penting, terutama di permukiman padat penduduk seperti perumahan, kos-kosan, atau kawasan kampus. Amit-amit kalau terjadi kebakaran. Walaupun di Gunungpati jarang terjadi kebakaran ya,” tutur Febri.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Semarang, Ade Bhakti Ariawan, mengakui masih terdapat wilayah wilayah blank spot hidran, termasuk Kecamatan Gunungpati dan Mijen.

BACA JUGA: Miris!! Dari 79 Hidran di Kota Semarang, Hanya 10 yang Berfungsi

“Dari 79 titik hidran yang tercatat, sekitar 61 masih terlihat fisiknya, tetapi yang benar-benar berfungsi hanya 10 titik. Sementara sisanya, ada yang rusak, tertutup, bahkan tidak terlihat lagi keberadaannya,” ujarnya.

Kondisi ini membuat Dinas Damkar Kota Semarang harus bekerja ekstra setiap kali terjadi kebakaran.

Minimnya hidran aktif dinilai sangat berisiko, terutama saat terjadi kebakaran besar. Ade menyebut, dengan luas wilayah Kota Semarang, jumlah hidran yang ada saat ini sebenarnya sudah sangat kurang, apalagi dengan kondisi sebagian besar tidak berfungsi.

“Dengan wilayah seluas Semarang, 79 titik saja sebenarnya belum ideal, apalagi yang aktif hanya 10. Ini jelas menyulitkan kami di lapangan,” katanya.

Ia mendorong pemanfaatan aset pemerintah, seperti kantor kelurahan, untuk dibangun tandon air guna menunjang operasional Damkar sekaligus sebagai fasilitas publik. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp