SEMARANG, beritajateng.tv – Semarang adalah salah satu kota yang selalu menarik minat berkunjung. Setelah berkunjung ke Kota Semarang tak lengkap rasanya kalau pulang belum membawa aneka oleh-oleh makanan seperti Wingko Babad Semarang.
Selain terkenal sebagai Kota Lumpia, Semarang juga punya Wingko Babad yang juga terkenal sebagai oleh-oleh khas Kota Semarang.
Salah satu Wingko Babad yang wajib wisatawan coba ketika mengunjungi Semarang adalah Wingko Babad Cap Kereta Api. Tokonya ada di Jalan Cendrawasih Nomor 14, Purwodinatan, Semarang Utara.
BACA JUGA: Libur Lebaran, Pusat Oleh-oleh Pandanaran Semarang Diserbu Pemudik
Lili, pengelola Wingko Babad Cap Kereta Api mengungkapkan bahwa tokonya telah berdiri sejak tahun 1946. Tak heran banyak pihak yang menyebut Wingko Babad Cap Kereta Api sebagai pionir Wingko Babad Kota Semarang.
“Wingko Babad Cap Kereta Api sudah ada sejak lama, iya dari tahun 1946,” kata Lili saat beritajateng.tv berkunjung, Selasa 4 Juli 2023.
Varian rasa pun kini semakin beragam. Tak hanya original yang menjadi andalannya, Wingko Babad Cap Kereta Api juga melakukan inovasi dengan menambah varian rasa.
“Kita rasanya ada rasa original, coklat, pisang raja, durian dan nangka, paling best seller yang original dan nangka,” ucap Lili.
Wingko Babad Semarang ternyata asalnya dari Lamongan
Untuk harganya sendiri, Wingko Babad Cap Kereta Api ia banderol dengan harga terjangkau. Yaitu Rp 6.000 untuk rasa original, dan Rp 6.500 untuk rasa nangka, coklat, durian, dan pisang raja.
Meski terkenal sebagai oleh-oleh khas Semarang, ternyata Wingko bukan makanan asli Semarang. Usut punya usut, makanan Wingko Babad sendiri berasal dari daerah Babad di Lamongan, Jawa Timur.
Seiring berjalannya waktu, warga Lamongan saat itu, Ny Mulyono kemudian membawa Wingko ke Kota Semarang. Perpindahan itulah yang kemudian melahirkan Wingko Babad Cap Kereta Api.
Mengusung nama Cap Kereta Api pun bukan tanpa alasan. Alasannya, jelas Lili, nama Cap Kereta Api karena Wingko Babad sering dijajakan di stasiun kereta api.
“Iya mungkin karena dulu jualannya di stasiun kereta api, jadinya pakai itu,” pungkasnya. (*)
Editor: Ricky Fitriyanto





