Jateng

Youth Summit 2026 Bahas Tantangan Pelajar dari Beban Akademik, Mental Health hingga Gawai

×

Youth Summit 2026 Bahas Tantangan Pelajar dari Beban Akademik, Mental Health hingga Gawai

Sebarkan artikel ini
forum youth summit 2026
Forum Youth Summit 2026: National Forum on Youth and Social Issues yang diselenggarakan Aljiro Smansa Semarang di Hotel Santika Premiere Semarang, Jumat, 21 Agustus 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

Selain forum tatap muka, SDGs Center Undip juga melakukan survei yang melibatkan lebih dari 700 siswa dari berbagai wilayah. Hasil survei tersebut menjadi salah satu bahan dalam penyusunan policy brief yang terbahas dalam forum.

Bulan berharap masukan siswa tidak berhenti sebagai bahan diskusi, tetapi benar-benar menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan pendidikan.

“Suara mereka itu perlu terdengar. Mereka perlu terlibatkan di dalam apa yang mereka butuhkan. Harapannya, itulah yang kemudian perlu di – address oleh pengambil kebijakan,” pungkasnya.

Pemerintah Dorong Gerakan Numerasi Nasional

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Pendidikan, Moch. Abduh, menyoroti persoalan rendahnya kompetensi literasi dan numerasi pelajar Indonesia.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, kata dia, terus melakukan intervensi untuk meningkatkan kemampuan tersebut. Salah satunya melalui Gerakan Numerasi Nasional.

“Gerakan Numerasi Nasional ini adalah sebuah gerakan yang kita harapkan bisa meningkatkan kemampuan numerasi siswa kita,” ujar Abduh.

Dia mengatakan matematika masih menjadi salah satu mata pelajaran yang teranggap sulit dan kurang siswa sukai. Karena itu, pemerintah berupaya mengubah pembelajaran matematika agar lebih menyenangkan dan tidak menjadi beban bagi siswa.

“Ketika kita tanya mata pelajaran apa yang paling tidak mereka sukai, jawabannya matematika. Karenanya kita mencoba untuk membuat bagaimana mata pelajaran matematika ini menjadi mata pelajaran yang menggembirakan,” katanya.

Selain metode pembelajaran, juga akan ada penyesuaian sistem asesmen untuk mengetahui tingkat kompetensi siswa secara lebih tepat. Salah satu pendekatan yang disiapkan adalah multi-stage adaptive, sehingga kemampuan literasi dan numerasi siswa dapat dipetakan berdasarkan tingkat kompetensinya.

Abduh juga menyoroti perubahan karakter generasi muda yang semakin dekat dengan gawai dan teknologi. Menurutnya, perkembangan teknologi dapat menjadi tantangan apabila penggunaannya tidak secara bijak, santun, dan etis.