Jateng

Youth Summit 2026 Bahas Tantangan Pelajar dari Beban Akademik, Mental Health hingga Gawai

×

Youth Summit 2026 Bahas Tantangan Pelajar dari Beban Akademik, Mental Health hingga Gawai

Sebarkan artikel ini
forum youth summit 2026
Forum Youth Summit 2026: National Forum on Youth and Social Issues yang diselenggarakan Aljiro Smansa Semarang di Hotel Santika Premiere Semarang, Jumat, 21 Agustus 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Tantangan generasi muda Indonesia tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, tetapi juga kesehatan mental dan kesiapan menghadapi perkembangan teknologi digital.

Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam Youth Summit 2026: National Forum on Youth and Social Issues yang  berlangsung di Hotel Santika Premiere Semarang, Jumat, 21 Agustus 2026.

Forum bertajuk “Preparing Indonesia’s Future Generation: Mental Well-being, Quality Education, and Digital Readiness” itu mempertemukan siswa, guru, pemerintah, akademisi, dan sejumlah pemangku kepentingan untuk membahas kualitas pendidikan sekaligus persoalan yang dihadapi generasi muda.

Youth Summit 2026 merupakan prakarsa Aljiro Smansa Semarang yang bekerja sama dengan SDGs Center Undip. Forum tersebut diikuti sekitar 250 peserta, dengan mayoritas berasal dari unsur siswa yang didampingi guru.

Kepala Pusat SDGs Center Undip, Prof. Bulan Prabawani, mengatakan salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah beban pendidikan yang dirasakan pelajar.

Survei SDGs Undip

Berdasarkan survei yang dilakukan SDGs Center Undip, hampir 30 persen pelajar SMA mengakui beban pendidikan akademik yang mereka hadapi tergolong tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut berpotensi memicu kelelahan atau burnout hingga berdampak pada kesehatan mental.

“Kalau mental health kita mendapati bahwa memang beban SLTA terkait dengan beban pendidikan akademik itu mereka menyatakan 29 persen, hampir 30 persen menyatakan bahwa beban pendidikan kita itu sangat tinggi,” kata Bulan yang juga menjadi Ketua Panitia Youth Summit 2026.

Menurutnya, beban tersebut belum termasuk persoalan yang berasal dari keluarga maupun lingkungan sosial. Akumulasi tekanan dapat membuat persoalan kesehatan mental pada pelajar semakin kompleks.

Bulan menilai sekolah membutuhkan mekanisme pendampingan yang lebih kuat. Sebab, meski guru Bimbingan dan Konseling (BK) tersedia di sekolah, kapasitas mereka tetap berbeda dengan psikolog maupun psikiater.