SEMARANG, 14/3 (beritajateng.tv) – Polemik warga Indonesia yang memilih berobat ke Penang daripada tanah air sendiri masih bergulir hingga hari ini. Pasalnya, mulai bermunculan komentar-komentar terkait teknis, fasilitas, dan layanan kesehatan di rumah sakit Indonesia.
Melalui laman twitter-nya, Jokowi menyebut bahwa ada 2 juta masyarakat Indonesia lebih memilih berobat ke luar negeri. Sekitar 1 juta masyarakat lebih memilih berobat ke Penang (Malaysia), 750 ribu berobat ke Singapura dan sisanya berobat ke Jepang, Amerika Serikat hingga Jerman.
Menanggapi statement Presiden Joko Widodo terkait banyaknya pasien yang berobat ke Penang dan negera lainnya, salah satu Komika Indonesia, Kiky Saputri melontarkan komentarnya di media sosial. Komentarnya terkait pengobatan sang mertua di rumah sakit Indonesia juga mendapat sorotan dari netizen Indonesia.
Sementara itu, kritik pedas juga datang dari salah satu warga Indonesia yang membagikan pengalamannya berobat di Semarang melalui video TikTok @carolinevinnawijaya. Ada beberapa pengalaman buruk yang harus dijalani hingga menahan rasa sakit karena ada indikasi kurangnya kesterilan saat menjalani operasi. Hingga pada akhirnya dirinya memutuskan untuk berobat ke Penang.
“Wow! Dokter di salah satu rumah sakit di Penang langsung tahu aku sakit apa cuma dengan melihat hasil operasi dan bekas jahitan. Dokternya bilang penyebab harus menahan sakit setelah operasi karena hasil operasinya tidak bersih, jorok,” katanya dengan ketus melalui video TikTok @carolinevinnawijaya.
Menurutnya, salah satu alasan orang Indonesia memilih berobat ke Penang karena harga berobatnya lebih murah dibanding di rumah sakit di Indonesia, khususnya Semarang.
“Harganya lebih murah berobat ke Penang daripada di Indo, khususnya Semarang. Udah mahal tapi ya begitulah,” katanya.
Selain biaya pengobatan yang murah, ternyata tenaga kesehatannya juga selalu on time dalam menjalankan tugasnya. Tenaga kesehatan di Penang datang tepat waktu sehingga tak membuat pasien menunggu lama. Sementara sebagian tenaga kesehatan di Indonesia datang tidak sesuai dengan jadwal.
“Ketika berobat ke Penang, dokternya menghargai waktu, on time datang ke rumah sakit untuk mengobati pasiennya, beda kalau di Indonesia. Jadwal prakteknya jam 8 tapi datangnya jam 10. Suka-suka mereka, kan dokter, kita yang butuh karena kita pasiennya. Kenyataannya memang gitu. Di sana ramai orang Indonesia. Alasannya mungkin karena lebih bagus, lebih murah, lebih pasti, lebih rapi hasil jahitannya. Amazing,” sambungnya.
Hal lain yang membuatnya mengapresiasi tenaga kesehetan di Penang karena tidak ada kata libur untuk merawat pasien. Meskipun weekend, dokter di Penang tetap menjalankan tugasnya untuk mengecek kondisi pasien.
“Sabtu mereka tetap visit ke rumah sakit. Sementara di Indonesia, hari Sabtu libur,” ujarnya.
Tidak sampai di situ, ia juga menyebut bahwa kualitas pelayanan dan perawatan di rumah sakit tidak akan berubah apabila tenaga kesehatannya belum bisa menghargai waktu dengan cara datang tepat waktu untuk mengurus pasien.
“Jika ingin memperbaiki kualitas pelayanan ke pasien, hargai dulu waktu pasiennya. Pasien kan dateng ke rumah sakit mau berobat, dan tentunya tak bisa menunggu waktu lama, apalagi harus menunggu dokternya yang belum datang,” tutupnya. (*).
Demikian informasi terkait polemik pasien RI lebih memilih berobat ke luar negeri, termasuk berobat ke Penang. (*).
Editor: Andi Naga Wulan.





