Jateng

18 Tahun Dihantui Banjir, Warga Taman Marina Semarang Masih Menanti Solusi Nyata

×

18 Tahun Dihantui Banjir, Warga Taman Marina Semarang Masih Menanti Solusi Nyata

Sebarkan artikel ini
Genangan air di kawasan Taman Marina, RW IX Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Semarang Barat. Jumat, 16 Januari 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)
Genangan air di kawasan Taman Marina, RW IX Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Semarang Barat. Jumat, 16 Januari 2026. (Yuni Esa Anugrah/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Masalah banjir yang melanda kawasan Taman Marina, RW IX Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Semarang Barat, kembali menjadi sorotan. Hingga awal 2026, warga masih harus menghadapi genangan air dan rob yang datang hampir setiap tahun, bahkan saat hujan tidak turun.

Banjir yang terjadi di kawasan pesisir Kota Semarang itu bukan persoalan baru. Sejak perumahan Taman Marina berdiri pada 1994, warga mulai merasakan genangan. Namun kondisi semakin parah sejak 2007, ketika banjir dan rob kerap datang tanpa mengenal musim.

Selama hampir dua dekade, warga hidup berdampingan dengan banjir tanpa solusi jangka panjang. Berbagai laporan dan aduan telah disampaikan kepada pemerintah, namun penanganan dinilai belum menyentuh akar persoalan.

Situasi tersebut membuat sebagian warga merasa belum sepenuhnya memperoleh hak dasar sebagai warga Kota Semarang, khususnya perlindungan dari risiko banjir. Padahal mayoritas warga Taman Marina merupakan pemegang KTP Semarang.

BACA JUGA: Banjir Rendam 437,76 Hektare Sawah di Kudus, Pemprov Jateng Bantu Petani Ajukan Klaim Asuransi

Persoalan status lahan yang masih berstatus Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) disebut-sebut menjadi salah satu kendala penanganan. Meski demikian, warga menegaskan bahwa kondisi administratif tidak seharusnya menghalangi pemenuhan hak dasar masyarakat.

Ketua RW IX Tawangsari, Budi Winarno, menyampaikan bahwa banjir telah berdampak langsung pada aktivitas harian warga. Akses jalan, fasilitas umum, hingga kegiatan ekonomi kerap terganggu.

“Kami mohon perhatian terkait fasilitas umum, terutama akses jalan warga yang sering terendam banjir meski tidak hujan,” ujar Budi pada Jumat, 16 Januari 2026.

Ia menuturkan, sejak menetap di Taman Marina pada 1998, kondisi awal kawasan relatif aman dari banjir. Namun situasi berubah setelah adanya peninggian jalan di sekitar perumahan.

“Sejak perbaikan jalan di sisi kawasan, air justru masuk ke perumahan. Dari situ banjir makin sering terjadi,” ungkapnya.

Budi juga mengeluhkan sulitnya warga mengajukan usulan penanganan banjir ke instansi terkait. Menurutnya, berbagai proposal telah diajukan, namun belum ada realisasi nyata.