SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, mencatat sebanyak 33.314 balita di Jawa Tengah terjangkit pneumonia pada periode Januari-Juli 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jateng, Heri Purnomo, mengatakan, pneumonia perlu mendapat perhatian khusus. Oleh karena dapat menyebabkan kondisi berat hingga kematian, terutama pada balita.
“Pneumonia pada balita itu bisa memungkinkan menyebabkan kematian,” katanya, Jumat, 11 September 2026.
Heri mengatakan, kasus pneumonia khususnya pada balita 2026 mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.
“Kasusnya semakin banyak sih memang. Untuk pneumonia, khusus pneumonia,” ucapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian. Terutama saat musim kemarau, ketika paparan debu di lingkungan meningkat. Meskipun, kata Heri, debu bukan penyebab langsung pneumonia.
“Pneumonia itu penyebabnya sebenarnya kan bakteri, bukan debu. Debu itu hanya sebagai memperburuk istilahnya,” katanya.
Artinya, paparan debu dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan seseorang yang sudah mengalami infeksi. Risiko tersebut menjadi lebih penting diperhatikan pada balita yang daya tahan tubuhnya masih berkembang.
“Rata-rata balita. Iya, jadi umur 5 tahun ke bawah lah. Yang rawan kan itu,” kata Heri.
Ribuan Kasus per Bulan
Data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jateng menunjukkan temuan kasus pneumonia balita mencapai ribuan setiap bulan sepanjang Januari hingga Juli 2026.
Pada Januari tercatat 4.418 kasus, kemudian meningkat menjadi 5.352 kasus pada Februari. Pada Maret terdapat 5.122 kasus dan April sebanyak 5.200 kasus.
Jumlah temuan kemudian menurun menjadi 4.637 kasus pada Mei, 4.571 kasus pada Juni, dan 4.014 kasus pada Juli. Jumlahnya, total temuan pneumonia balita sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 33.314 kasus.
Dari data tersebut, sejumlah daerah mencatat angka temuan cukup tinggi. Pada Juli 2026, Kabupaten Brebes ada 776 kasus, disusul Demak 297 kasus, Banyumas 286 kasus, Blora 272 kasus dan Purbalingga 263 kasus.
551 Kematian Pneumonia Tercatat di Jawa Tengah
Selain data temuan kasus pneumonia balita, data Dinkes Jateng tahun 2026 juga mencatat adanya 551 kematian akibat pneumonia pada berbagai kelompok usia.
Data tersebut mencatat kematian akibat pneumonia meliputi balita, anak, remaja, dewasa hingga lansia.
Di Kabupaten Karanganyar, menjadi daerah dengan jumlah kematian pneumonia tertinggi, yakni 166 kasus. Kemudian Pati mencatat 88 kematian, dan Banyumas 64 kematian.
Heri menjelaskan pneumonia yang terlambat mendapat penanganan dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius. Pada anak-anak, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi kesulitan bernapas dan berujung fatal.
“Kalau pada anak-anak yang alami pneumonia, maka napasnya susah gitu ya. Akhirnya bisa meninggal,” katanya.
Meski demikian, Heri mengatakan, pneumonia masih dapat ditangani apabila bisa deteksi dini dan mendapat penanganan segera.
Pakai Masker saat Keluar Rumah
Lebih lanjut, Heri mengatakan, masyarakat perlu mengenakan masker di tengah kondisi udara yang berdebu selama musim kemarau, Hal ini sebagai bentuk pencegahan.
Selain masker, masyarakat agar bisa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Termasuk mencuci tangan secara rutin.
Orang tua juga perlu menjaga anak agar tidak terlalu sering terpapar debu maupun asap. Balita harus menjadi perhatian utama karena termasuk kelompok yang paling rentan.
Heri juga meminta masyarakat menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit. Hal ini untuk mencegah penularan infeksi saluran pernapasan. (*)
Editor: Diaz A Abidin





