Pendidikan

Bukan Militeristik, KKRI Bekali Siswa SMAN 3 Semarang Hadapi Ancaman Nonmiliter Lewat Masterclass Roadshow

×

Bukan Militeristik, KKRI Bekali Siswa SMAN 3 Semarang Hadapi Ancaman Nonmiliter Lewat Masterclass Roadshow

Sebarkan artikel ini
KKRI
Kepala Pusat Bela Negara Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Luhut Marpaung, usai menghadiri kegiatan Masterclass Roadshow Ekstrakurikuler KKRI di Aula SMA Negeri 3 Semarang, Jumat, 9 Oktober 2026. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kementerian Pertahanan (Kemhan) menegaskan Korps Kadet Republik Indonesia (KKRI) bukan kegiatan militerisasi terhadap pelajar.

Ekstrakurikuler tersebut menjadi salah satu sarana membentuk karakter, kepemimpinan, dan wawasan kebangsaan generasi muda di tengah ancaman nonmiliter yang semakin kompleks.

Kepala Pusat Bela Negara Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Luhut Marpaung, menyampaikan hal itu usai menghadiri kegiatan Masterclass Roadshow Ekstrakurikuler KKRI di Aula SMA Negeri 3 Semarang, Jumat, 9 Oktober 2026.

“KKRI pada jenjang pendidikan menengah itu wadah pembinaan generasi muda yang unggul, memiliki kualitas SDM yang baik, tetapi juga punya karakter, budi pekerti, wawasan kebangsaan yang baik. Jadi, ini bukan kegiatan militerisasi, tetapi menyiapkan mereka [pelajar], karena mereka adalah aset negara,” kata Luhut.

Bagi Luhut, tantangan yang ԁihadapi Indonesia saat ini tidak hanya berkaitan dengan ancaman bersenjata atau militer. Ia menegaskan, ancaman nonmiliter juga bisa menyasar pelajar dan dapat memengaruhi ketahanan nasional.

“Generasi muda ini adalah penerus yang harus kita siapkan, mengingat ancaman dan tantangan saat ini sudah kompleks dan dinamis, tidak lagi berbicara tentang ancaman bersenjata atau ancaman militer, tapi juga yang dominan adalah ancaman nonmiliter atau ancaman nonfisik yang tidak bersentuhan langsung dengan senjata,” tutur Luhut.

Beberapa di antaranya berupa disinformasi, perang siber, penyalahgunaan narkoba, judi online, hingga intoleransi.

“Kita harus siapkan karena ancaman tersebut bergerak secara diam-diam, kita tidak bisa lihat secara silent bergerak, tetapi dapat mempengaruhi ketahanan nasional,” sambung Luhut.

BACA JUGA: Salah Paham Tahapan SPMB, Calon Murid SMAN 3 Semarang Gagal Daftar

Ancaman Digital Mengincar Generasi Muda

Luhut menjelaskan, digitalisasi yang semakin masif bisa membuka ruang bagi penyebaran ancaman nonmiliter, termasuk melalui informasi palsu yang beredar di media sosial.

Ia menyinggung cognitive warfare, yakni upaya memengaruhi pola pikir seseorang, antara lain melalui disinformasi, hoaks, dan berita palsu. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang perlu ԁiwaspadai, termasuk oleh kalangan pelajar.