SEMARANG, beritajateng.tv – Penyebab meninggalnya seorang dokter muda mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesi Universitas Diponegoro (Undip), dr. Aulia Risma Lestari, masih menjadi teka-teki.
Hampir 10 hari berlalu selepas kematian korban, proses penyelidikan pun masih terus berjalan. Baik dari tim investigasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI maupun Polrestabes Semarang.
Kuasa hukum keluarga, Susyanto, menyebut kliennya baru saja menerima kunjungan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin. Kedatangan tersebut sekaligus bertujuan untuk menelusuri data-data pendukung yang berkaitan dengan meninggalnya dr. Aulia.
“Kami berikan data-data yang diperlukan, baik catatan, chat WhatsApp almarhum dengan ibu, bapak, adik, dan tantenya. Tapi yang kami berikan [baru] chat almarhum denhan bapak, dan ada pesan suara,” katanya kepada beritajateng.tv, Selasa, 20 Agustus 2024 malam.
BACA JUGA: Keluarga dr. Aulia Risma Lestari Simpan Barang Bukti Diary, Bantah Almarhumah Meninggal Bunuh Diri
Susyato menambahkan, keluarga dr. Aulia juga baru saja menerima surat panggilan dari Polrestabes Semarang. Panggilan tersebut tertanggal untuk Kamis, 22 Agustus 2024 besok.
Hanya saja, kondisi ayah almarhumah, Moh. Fakhruri, tak memungkinkan untuk datang ke pemeriksaan. Kesehatan Moh. Fakhruri disebut terus menurun pascapemakaman almarhumah pada Selasa lalu.
Bahkan, ayah almarhumah kini dirujuk ke RSCM Jakarta lantaran berada dalam kondisi kritis. Sehingga, kata Susyanto, pihaknya berencana untuk mengajukan penjadwalan ulang.
“Tapi kemarin tim investigasi sudah bawa berkas-berkas, termasuk dari tante atau bude yang pernah mendapat curhatan dari almarhum,” sambungnya.
Selidiki penyebab penyakit korban
Lebih jelas, Susyanto menuturkan, penyelidikan dan investigasi ini bertujuan untuk menggali apakah ada perundungan yang terjadi di PPDS Anestesi Undip atau tidak. Bukan soal bunuh diri.