Hukum & Kriminal

Deretan Fakta Kasus Kematian Siswa SMPN 1 Geyer Grobogan: Dugaan Perundungan, Tewas di Kelas

×

Deretan Fakta Kasus Kematian Siswa SMPN 1 Geyer Grobogan: Dugaan Perundungan, Tewas di Kelas

Sebarkan artikel ini
Perundungan SMPN 1 Blora | Bullying Siswa SMP Semarang | Perundungan Blora | SMPN 1 Geyer | Perundungan SD | bullying cilacap | pelaku perundungan
Ilustrasi bullying anak sekolah. (Foto: Pexels/Pixabay)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kasus meninggalnya Angga Bagus Perwira (12), siswa kelas VII SMPN 1 Geyer, Kabupaten Grobogan, mengguncang publik Jawa Tengah.

Bocah itu menurut dugaan menjadi korban perundungan hingga tewas di ruang kelas pada Sabtu, 11 Oktober 2025.

Hasil autopsi menunjukkan adanya penggumpalan darah di kepala akibat benturan keras. Berikut sejumlah fakta lengkap di balik tragedi tersebut.

Deretan Fakta Kasus Kematian Siswa SMPN 1 Geyer Grobogan

1. Angga Terlibat Perkelahian di Kelas

Menurut kesaksian teman sekelas, APR (12), Angga sempat terlibat perkelahian dengan salah satu temannya pada Sabtu pagi. Saat itu guru belum hadir di kelas.

“Awalnya Angga diejek teman-temannya. Dia tidak terima, lalu berkelahi. Kepalanya kena pukulan dan berhenti setelah itu,” ungkap APR, siswi kelas VII F.

Pertikaian itu menjadi awal tragedi memilukan yang menewaskan bocah tersebut.

BACA JUGA: Kuasa Hukum Tegaskan Tidak Ada Unsur Perundungan di Kasus PPDS Anestesi Undip

2. Perundungan Terus Terjadi pada Jam Mapel Selanjutnya

Sekitar pukul 11.00 WIB, Angga kembali mendapat ejekan dari teman-temannya. Mereka menantangnya untuk bertarung dengan AD (12).

“Mereka bilang, ‘Kamu beraninya sama siapa?’” tutur APR.

Dalam duel itu, kepala Angga mendapat pukulan berkali-kali hingga kejang dan tak sadarkan diri. Ia sempat dibawa ke UKS, namun nyawanya tidak tertolong.

3. Belum Ada Guru Saat Insiden Berlangsung

Perkelahian terjadi dua kali tanpa pengawasan guru. Baik pada insiden pertama maupun kedua, tidak ada guru di kelas.

Situasi tanpa kontrol membuat siswa bebas melakukan kekerasan. Kondisi ini menimbulkan sorotan besar terhadap lemahnya pengawasan sekolah.

4. Korban Kejang-kejang dan Tewas di Ruang Kelas

Setelah menerima pukulan, Angga kejang di depan teman-temannya. Ia kemudian dibawa ke UKS, namun meninggal di sekolah sekitar pukul 11.00 WIB.

“Kami menerima kabar Angga meninggal di sekolah. Katanya sempat teman-temannya keroyok,” ungkap paman korban, Suwarlan (45).

BACA JUGA: Marak Kasus Perundungan dan Pelecehan, UIN Walisongo Semarang Siap Cetak Dokter Berakhlak Islami

5. Hasil Autopsi Ungkap Penggumpalan Darah di Kepala

Jenazah Angga diautopsi di RSUD Dr. R. Soedjati Soemodiardjo Purwodadi. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya penggumpalan darah di otak akibat benturan keras.

“Ada penggumpalan darah di kepala,” ujar Suwarlan di rumah duka Desa Ledokdawan, Kecamatan Geyer.

6. Pemakaman Jenazah di Desa Ledokdawan

Setelah autopsi selesai, jenazah Angga dibawa ke rumah duka. Pemakaman berlangsung pada Minggu, 12 Oktober 2025 pagi di pemakaman umum Desa Ledokdawan.

Keluarga lantas menunggu orang tua korban yang datang dari Cianjur, Jawa Barat.

7. Polisi Periksa Para Saksi dan Dalami Kasus

Kasat Reskrim Polres Grobogan, AKP Rizky Ari Budianto, menyebut penyidik masih memeriksa sejumlah saksi, termasuk teman sekelas dan guru.

“Proses penyelidikan masih berjalan. Banyak saksi yang kami periksa,” katanya. Polisi pun mendalami dugaan penganiayaan dan kelalaian pengawasan sekolah.

Keluarga berharap pelaku mendapat hukuman setimpal. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa sekolah harus menjadi tempat aman bagi anak, bukan ruang kekerasan. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp