SEMARANG, beritajateng.tv – Lilik (37), dengan pakaian berbahan serat goni yang membalut tubuhnya, duduk bersimpuh di aspal panas. Teriakannya lantang terdengar di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah: “Save Lawu”, “Save Ungaran”, “Save Telomoyo”, “Save Slamet”.
Berbeda dengan Zainudin yang berlari 150 kilometer dari Cemoro Sewu, Magetan, Lilik berjalan kaki dari Candi Gedong Songo, Kabupaten Semarang, hingga tiba di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah pada Kamis, 24 September 2026 sore.
Dalam orasinya setelah menempuh perjalanan tersebut, Lilik meminta pejabat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah agar tidak menjadikan Jawa Tengah sekadar objek investasi, terutama dengan mengorbankan alam dan lingkungan.
“Jawa Tengah ora ԁidol, Jawa Tengah ora ԁidol, Jawa Tengah ora ԁidol (Jawa Tengah tidak ԁijual),” teriak Lilik tiga kali.
“Sangkan paraning dumadi, nyawiji dadi siji,” timpalnya dengan falsafah Jawa yang kurang lebih bermakna tentang kesadaran manusia terhadap asal-usul, perjalanan hidup, hingga tujuan akhir untuk kembali menyatu dengan Sang Pencipta.
Lilik pun tak lupa mengangkat kartu merah yang ia bawa. Kartu tersebut secara khusus ia tujukan kepada Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.
“Kartu merah kanggo Gubernur Jawa Tengah. Ngopeni lan nglakoni, dudu mung ana ing lambe, nanging saka ati. Nyawiji dadi siji, njaga alam Jawa Tengah,” ucap Lilik.
Jalan Kaki dari Gedong Songo, Lilik Akui Semangat karena Dapat Dukungan Warga Setempat
Ia menempuh perjalanan tersebut dengan berjalan kaki dan mendapat dukungan penuh dari warga sekitar Candi Gedong Songo, wilayah cagar budaya yang bakal terdampak jika proyek geotermal di Gunung Ungaran ԁilangsungkan.
“Dukungan dari masyarakat khususnya di daerah Candi Gedong Songo itu sangat antusias sekali. Rasa lelah itu karena ada masyarakat banyak mendukung jadinya. Tambah semangat gitu loh,” kata Lilik.




