SEMARANG, beritajateng.tv – Berlari 150 kilometer jauhnya dari Cemoro Sewu, Gunung Lawu, bagian Jawa Timur, ke Semarang merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi Zainudin (34).
Memang, Zainudin merupakan atlet lari dan lari jauh seperti ini pun bukan kali pertama baginya. Jarak sejauh itu bukan sesuatu yang muskil bagi Zainudin.
Bahkan pada 2022 silam, Zainudin yang juga merupakan seorang pemandu gunung pernah lari untuk charity, dari Kota Semarang ke Monas, DKI Jakarta. Saat itu, Zainudin berlari untuk berdonasi bagi anak-anak penderita kanker.
Namun, lari panjang yang ia tempuh tahun ini tujuannya berbeda. Sebagai relawan Gunung Lawu, Zainudin ikut bergabung dalam barisan yang tegas menolak proyek geotermal di wilayah Jenawi, yang masih satu kawasan dengan Gunung Lawu.
“Saya ikut aksi ini untuk menolak geotermal yang ada di Jenawi, seluruh Jawa Tengah, dan se-nusantara. Tentunya sebagai pelari dan warga setempat, saya menolak geotermal, karena itu dampaknya sangat panjang dan meluas, bahkan sampai di Sragen, Solo, atau bisa sampai Jawa Timur,” ujar Zainudin.
Rencana lari sejauh itu sebenarnya sudah pernah ia pikirkan beberapa tahun lalu.
“Saya pernah diskusi sama teman saya, di sini juga, kami diskusi bertiga, ‘Yuk, kita bikin acara lari untuk penolakan geotermal’, terus kami gagal. Akhirnya kemarin saat Gunung Lawu terbakar, saya enggak ada kerjaan, ya udah enggak apa-apa, ayo,” ucap Zainudin, sambil mengingat percakapan dengan rekannya, Ian.
Sepanjang berlari, Zainudin pun mengaku dirinya dan dua orang pelari lainnya mendapat sokongan penuh. Bahkan pengawalan dari TNI/Polri sekalipun, kata dia.
“Akhirnya kami ԁidampingi teman-teman semua, relawan yang ada di Solo Raya, semuanya. Terus dari maskotnya juga, pokoknya dari semua relawan, komunitas lari selama perjalanan ini, TNI Polri kami juga ԁikawal. Terima kasih banget,” tutur Zainudin.





