SEMARANG, beritajateng.tv – Jika anak seusianya saat ini lebih banyak mencintai gawai, berbeda dengan si kembar Bagas Satyanegara dan Brata Satrianegara. Mereka berdua ternyata lebih menyenangi wayang, khususnya wayang kulit.
Satya dan Satria, begitu mereka disapa, mengaku tertarik akan pertunjukkan wayang kulit sejak berumur 3 tahun. Bocah berusia 11 tahun ini bahkan serius menekuni dunia pedalangan.
Keseriusan tersebut mereka buktikan dengan turut serta pertama kalinya pada kompetisi bertajuk Festival Dalang Cilik yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang. Tak tanggung-tanggung, mereka berdua berhak melaju ke tahap final, bersaing dengan delapan finalis lainnya.
“Rasanya tampil tadi pasti deg-degan, merebutkan piala. Awalnya dari 18 peserta hingga sekarang 10 besar. Apalagi kami tampil bisanya 2 dalang bareng, tadi main bergantian,” kata Satria kepada beritajateng.tv seusai menyelesaikan penampilannya.
BACA JUGA: Lestarikan Kesenian Wayang Kulit, Disbudpar Kota Semarang Gelar Festival Dalang Cilik di TBRS
Ya, sebagai anak kembar, ternyata Satya dan Satria sering kali tampil bersamaan. Mereka terbiasa berbagi panggung membawakan lakon yang sama.
Kecintaan Satya dan Satria akan wayang kulit tentu menciptakan rasa kebanggaan tersendiri bagi Padmasari dan Resky. Siswa kelas 6 di SD Al-Azhar 25 Semarang itu pernah beberapa kali tampil pada acara wayang kulit.
Mereka sendiri mengidolakan almarhum Ki Seno Nugroho dan Ki Sigit sebagai sosok dalang panutan. Satria misalnya, ia ingin menjadi dalang kondang yang bisa mengenalkan wayang
“Jadi dalang dan membuat wayang bisa diliat lagi dengan lebih baik. Orang kalau ngeliat wayang tahunya cuma Pandawa, Nakula Sadewa. Nah, aku mau semua orang tahu kalau wayang tidak hanya itu-itu saja,” ucap Satria.
Dukung penuh sang anak geluti seni wayang kulit
Sementara itu, orang tua si kembar, Resky Ristyanto dan Padmasari Mestikajati mengungkapkan, kedua anaknya sejak bayi memang sudah terlihat memiliki ketertarikan ke dunia seni. Ia mencontohkan, Satya dan Satria saat kecil hanya mau makan jika ia beri tontonan seputar wayang.
Sejak usia dini, Resky menyebut jika anaknya memang tidak tertarik terhadap permainan umum seperti mobil-mobilan, robot, dan sebagainya. Mereka malah lebih tertarik melengkapi koleksi wayangnya. Hingga saat ini, koleksi wayang milik si kembar terhitung lebih dari 30 buah.
“Mereka itu permintaannya kalau naik kelas atau ulang tahun itu minta hadiahnya wayang. Mereka otodidak lihat sendiri, cari-cari wayang, ‘oh gak punya yang ini’ akhirnya minta dibelikan wayang,” ungkap Resky.
BACA JUGA: Meski Sederhana, Begini Kisah Wayang Suket Usung Cerita asli Indonesia
Di usianya yang masih 11 tahun, Satria bahkan telah merencanakan untuk melanjutkan pendidikan ke Insitut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada jurusan Seni Pedalangan.
“Kalau sekarang saya sama bapaknya bangga, kami tidak pernah mendorong. Pas kecil bahkan harus bawa wayangnya kalau keluar kota. Lucunya juga mereka kalau nonton wayang bisa sampai nangis, sampai pagi,” tandas Padmasari. (*)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





