SEMARANG, beritajateng.tv – RSJD Dr. Amino Gondohutomo atau Amino Hospital menyelenggarakan pagelaran wayang kulit bertajuk ‘Jiwa Kuat Anti Sambat’ di depan halaman gedung baru Blok Jiwa, Sabtu, 1 Februari 2025 siang.
Kegiatan itu diselenggarakan sebagai hiburan sekaligus mengampanyekan pentingnya kesehatan mental di kalangan masyarakat Kota Semarang.
Direktur RSDJ Amino Gondohutomo, Alek Jusran, pertunjukan wayang kulit ini merupakan satu rangkaian dari peresmian bangunan baru di Amino Hospital.
Pertunjukkan wayang kulit kemudian terpilih sebagai perwujudan kesehatan mental sekaligus perpaduan antara seni dan budaya.
“Wayang hanya sebagai contoh bagaimana kesenian menjadi bagian dari penguatan jiwa. Orang-orang yang mengapresiasi seni dan budaya itu Insyaallah secara menyal lebih kuat,” kata Alek kepada beritajateng.tv.
BACA JUGA: Nguri-uri Budaya Tradisional, Ketua DPRD Jateng Sumanto Gelar Pentas Wayang Kulit di Karanganyar
Menurut Alek, wayang kulit adalah salah satu media kampanye kesadaran kesehatan mental sekaligus pelestarian budaya wayang kulit. Khususnya di kalangan generasi muda.
“Harapannya bahwa jiwa kita lebih kaya, lebih kuat menghadapi stresor, lebih bisa mengukur respon terhadap stresor, sehingga hasil akhrinya kesehatan jiwa kita yang terjaga,” sambungnya.
Undang dalang milenial
Sementara itu, Ketua Panitia Rudy Widiyanto menambahkan, pertunjukkan wayang kulit ini akan berlangsung dua kali secara berurutan. Yakni pukul 13.00 WIB dan pukul 20.00 WIB. Menurut Rudy, pagelaran wayang kulit ini dua dalang milenial kakak adik yang cukup tesohor.
Pertama, adalah Ki Danesworo Rafi Ramadhan yang tampil sebagai dalang dengan lakon ‘Bimo Suci’. Lalu ada Ki Herjuno Pramariza Fadhlansyah yang tampil dengan lakon ‘Ampak Ampak Wiratha’.
“Ini perwujudan percintaan kita terhadap seni tradisional yang adi luhung. Karena wayang kulit bukan hanya hiburan tapi juga mengandung ajaran moral dan kearifan lokal yang sangat penting bagi kehidupan kita semua,” kata Rudy.
BACA JUGA: Paguyuban Dalang Karanganyar Pentas 36 Jam, Andika-Hendi: Wayang Harus Masuk Industri Kreatif





