Menurutnya, embusan angin yang menyertai hujan bisa berbeda-beda intensitasnya, tergantung dari ukuran awan pembawa hujan yang terbentuk.
“Jadi ketika ada awan-awan hujan maka kondisi sekitarnya juga akan diikuti dengan adanya hembusan angin. Nah, hembusan anginnya sendiri untuk intensitasnya bisa juga dari seberapa besar awan pembawa hujan tersebut,” lanjut Icky.
BACA JUGA: Antisipasi Cuaca Ekstrem, Daop 4 Semarang Mitigasi Potensi Gangguan Perjalanan Kereta Api
Tak hanya itu, tutur Icky, BMKG Ahmad Yani juga mencatat suhu panas yang sempat warga Semarang rasakan beberapa hari terakhir. Berdasarkan alat pengukur temperatur di kawasan Bandara Ahmad Yani, suhu tertinggi mencapai 34 derajat Celsius.
“Untuk wilayah Kota Semarang sih kalau pengamatan kami kurang lebih sekitar 34 derajat celsius di wilayah Bandara Udara Ahmad Yani. Karena peralatan pengukuran temperatur udara itu ada di bandara,” ungkap Icky.
Suhu ini, menurutnya, masih tergolong wajar untuk ukuran musim pancaroba, di mana intensitas sinar matahari cukup tinggi sebelum akhirnya berubah menjadi hujan.
Prediksi cuaca sepekan mendatang di Kota Semarang
Lebih lanjut, BMKG juga merilis prediksi cuaca untuk Kota Semarang dalam sepekan ke depan. Pada Selasa hingga Rabu, 30 September s.d. 1 Oktober 2025, potensi hujan masih ada, namun setelah itu kondisinya cenderung berawan.
“Berdasarkan data per hari ini, Selasa, 30 September 2025, prediksinya hujan sampai dengan besok hari Rabu, 1 Oktober 2025. Kemudian di hari setelahnya sampai dengan 7 hari ke depan prediksinya itu cenderung berawan,” kata Icky.
Kendati begitu, ia mengingatkan bahwa sinar matahari masih akan terasa terik terutama mulai Kamis, 2 Oktober 2025 hingga Selasa, 7 Oktober 2025 mendatang. Hal itu lantaran Kota Semarang masih berada di penghujung musim peralihan.
BACA JUGA: Terkendala Cuaca, Festival Layang-layang Internasional di Semarang Mundur ke Oktober 2025





