SEMARANG, beritajateng.tv – Brigadir Ade Kurniawan, anggota Polda Jawa Tengah terduga pelaku pembunuhan terhadap anak kandungnya, ternyata sempat mengaku sebagai pegawai swasta.
Kuasa hukum keluarga korban, Alif Abdurrahman, mengungkapkan DJP, kliennya, pertama kali mengenal pelaku pada tahun 2023 silam. Saat itu, Brigadir Ade Kurniawan menutupi identitas dirinya sebagai polisi.
“Awalnya bukan ngaku seorang polisi. Awalnya ngaku adalah kerjanya di Telkomsel. Cuma lama-kelamaan ya tahulah namanya sudah saling dekat ya kan,” kata Alif saat konferensi pers di kantor Abdurrahman & Co, Selasa, 11 Maret 2025.
Alif melanjutkan, DJP sendiri merupakan lulusan salah satu universitas negeri di Kota Semarang. Ia tinggal di Semarang karena alasan menempuh pendidikan tinggi.
Keduanya kemudian menjalin hubungan asmara dan tinggal satu rumah. Terkait status antara Brigadir Ade Kurniawan dan DJP, Alif belum bisa berbicara lebih banyak.
Hanya saja, ia memastikan Brigadir Ade Kurniawan merupakan ayah kandung dari korban bayi berusia dua bulan itu.
“Statusnya kami belum bisa menjawab, tapi kami ada bukti otentik tes DNA sehingga Brigadir AK tidak bisa berkilah, 99 persen itu anak kandungnya,” ujar Alif.
“Kami tidak berkomentar resmi tidak resminya, namun ini dilakukan kepada anak di bawah umur yang seharusnya mendapat perlindungan dari negara,” tekannya.
Ibu korban dalam kondisi syok dan terima intimidasi
Lebih lanjut, Alif menyebut bahwa DJP saat ini masih dalam kondisi syok pasca kepergian anaknya. DJP masih belum siap untuk tampil ke publik.
“Saat ini ibu kandung bayi sangat terguncang, secara moril dan psikis,” tekannya.
Sementara itu, kuasa hukum lainnya, Amal Lutfiansiah, menambahkan, keluarga korban saat ini mendapat intimidasi. Intimidasi itu berupa verbal baik langsung maupun tidak langsung.
BACA JUGA: Kronologi Anggota Polda Jateng Bunuh Bayi 2 Bulan: Cekik di Mobil Saat Ibunya Belanja
“Mungkin agar korban tidak speak up, agar tidak lanjut laporan, dan melalui jalur damai. Loh ini meninggal secara tidak wajar kok mau damai seperti apa? Aneh,” kata Amal.
Namun, ia enggan menduga-duga siapa pelaku intimidasi itu, apakah keluarga pelaku atau institusi polisi.
“Kami tidak mau berspekulasi mengenai itu, tapi yang jelas ada upaya-upaya untuk intimidasi maupun intervensi,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





