Gaya Hidup

Balita Dikasih HP Biar Diam? Psikolog Ingatkan Dampak “Rekaman Otak” di Usia Golden Period

×

Balita Dikasih HP Biar Diam? Psikolog Ingatkan Dampak “Rekaman Otak” di Usia Golden Period

Sebarkan artikel ini
Handphone Balita | Gadget Anak | adiksi perilaku | gaya hidup gen Z
Ilustrasi anak bermain gawai. (Foto: Freepik)

“Bisa ajak dongeng sebelum tidur, ngobrol. Anak itu butuh komunikasi, bukan sekadar distraksi,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada layar, tetapi juga memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.

Orang tua juga lebih baik melibatkan anak dalam komunikasi sederhana sehari-hari agar anak merasa dihargai dan percaya diri.

“Coba tanya, kamu lihat apa? Ceritakan ke mama. Jadi anak merasa, ‘Oh, aku pintar,’ dia senang dan mau terbuka,” jelasnya.

BACA JUGA: Kasus Suspek Campak Tembus 10 Ribu di Awal 2026, IDAI Ingatkan Imunisasi Anak Cegah KLB

Probowatie menegaskan bahwa masa 0-6 tahun merupakan periode yang tidak bisa terulang, sehingga orang tua perlu lebih selektif dalam memberikan stimulus kepada anak, termasuk dalam penggunaan gadget.

“Golden period itu hanya sekali. Jadi harus hati-hati, apa yang masuk ke anak itu akan membentuk dia ke depan,” tegasnya.

Di sisi lain, IDAI juga menyoroti persoalan paparan layar (screentime) dan penggunaan gawai pada anak yang mereka nilai semakin mengkhawatirkan.

Ketua IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan, anak di bawah usia dua tahun seharusnya tidak terpapar gawai sama sekali, terutama pada masa seribu hari pertama kehidupan yang krusial bagi perkembangan otak.

“Periode ini membutuhkan interaksi dua arah dan stimulasi nyata yang tidak bisa tergantikan oleh layar. Sementara pada anak yang lebih besar, penggunaan gawai berlebihan telah memicu berbagai gangguan,” tegasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp