SEMARANG, beritajateng.tv – Kebiasaan memberi handphone kepada balita agar berhenti menangis masih sering para orang tua lakukan. Padahal, dari sisi psikologis, langkah ini menyimpan risiko jangka panjang terhadap perkembangan otak anak, terutama di usia emas atau golden period.
Psikolog Dra. Probowatie Tjondronegoro, M.Si. menegaskan bahwa anak usia 0-6 tahun berada pada fase krusial pembentukan memori dan perilaku. Apa pun yang anak lihat pada fase ini akan terekam kuat dalam otak, meski belum langsung terlihat dampaknya.
“Sebenarnya jangan, ya. Anak kecil itu belum mengerti apa-apa, tapi semua yang dia lihat itu seperti terekam di kepalanya,” ujarnya.
Menurut Probowatie, otak anak pada usia dini bekerja layaknya “penyimpan data” yang merekam berbagai pengalaman visual, termasuk konten dari layar gadget. Rekaman ini akan tersimpan dan bisa muncul kembali saat anak tumbuh besar.
BACA JUGA: Pembatasan Medsos Anak Mulai Berlaku, IDAI: Langkah Awal Jaga Masa Depan
“Semua yang dilihat, termasuk kekerasan atau hal lain, itu tersimpan. Nanti ketika besar dan bertemu situasi yang sama, dia bisa meniru karena merasa itu familiar,” jelasnya.
Fenomena balita yang langsung tenang setelah diberi gadget sering dianggap solusi praktis oleh orang tua. Namun, di balik itu, ada potensi ketergantungan serta gangguan perkembangan emosi dan sosial.
Probowatie mengingatkan bahwa penggunaan gadget sejak dini tanpa kontrol dapat membentuk pola respons instan pada anak di mana anak terbiasa mencari distraksi digital saat merasa tidak nyaman.
“Lingkungan itu membentuk anak. Kalau dari kecil terbiasa seperti itu, nanti bisa terbawa sampai besar,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa balita belum memiliki kemampuan menyaring informasi, sehingga seluruh konten yang masuk baik atau buruk, akan mereka terima mentah-mentah.
Bukan Handphone, Alternatif Sehat Lewat Dongeng dan Interaksi Orang Tua kepada Balita
Alih-alih memberikan gadget, Probowatie menyarankan orang tua untuk memperbanyak interaksi langsung dengan anak, seperti bercerita atau berdongeng.
“Bisa ajak dongeng sebelum tidur, ngobrol. Anak itu butuh komunikasi, bukan sekadar distraksi,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada layar, tetapi juga memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.
Orang tua juga lebih baik melibatkan anak dalam komunikasi sederhana sehari-hari agar anak merasa dihargai dan percaya diri.
“Coba tanya, kamu lihat apa? Ceritakan ke mama. Jadi anak merasa, ‘Oh, aku pintar,’ dia senang dan mau terbuka,” jelasnya.
BACA JUGA: Kasus Suspek Campak Tembus 10 Ribu di Awal 2026, IDAI Ingatkan Imunisasi Anak Cegah KLB
Probowatie menegaskan bahwa masa 0-6 tahun merupakan periode yang tidak bisa terulang, sehingga orang tua perlu lebih selektif dalam memberikan stimulus kepada anak, termasuk dalam penggunaan gadget.
“Golden period itu hanya sekali. Jadi harus hati-hati, apa yang masuk ke anak itu akan membentuk dia ke depan,” tegasnya.
Di sisi lain, IDAI juga menyoroti persoalan paparan layar (screentime) dan penggunaan gawai pada anak yang mereka nilai semakin mengkhawatirkan.
Ketua IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan, anak di bawah usia dua tahun seharusnya tidak terpapar gawai sama sekali, terutama pada masa seribu hari pertama kehidupan yang krusial bagi perkembangan otak.
“Periode ini membutuhkan interaksi dua arah dan stimulasi nyata yang tidak bisa tergantikan oleh layar. Sementara pada anak yang lebih besar, penggunaan gawai berlebihan telah memicu berbagai gangguan,” tegasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





