SEMARANG, beritajateng.tv – Film Dirty Vote yang berdurasi 1 jam 57 menit dengan menampilkan tiga pakar hukum tata Negara kini berhasil mencuri perhatian. Film tersebut tayang perdana tepat pada 11 Februari 2024 pukul 11.11 WIB.
Dandhy Dwi Laksono seorang jurnalis investigasi merupakan sutradara dari film tersebut. Ia menghadirkan film ini dengan mengungkapkan beberapa data faktual mengenai dugaan adanya kecurangan Pemilu 2024.
Berikut ini beritajateng.tv akan bagikan ringkasan mengenai film tersebut. Perhatikan baik-baik supaya kita dapat bijak dalam menentukan siapa presiden yang akan kita pilih menjelang Pemilu nanti.
Ringkasan Film
Film ini mengisahkan tentang rancangan kecurangan dalam Pemilu 2024 menurut perspektif ahli hukum tata negara di Indonesia. Termasuk di antaranya, perbedaan ucapan Jokowi mengenai keterlibatan anak-anaknya dalam dunia politik.
Film tersebut juga menyoroti ketidaknetralan para pejabat publik, potensi kecurangan oleh kepala desa, dan pengalokasian anggaran bantuan sosial. Tak hanya itu, pemanfaatan fasilitas publik, serta pelanggaran etika oleh lembaga-lembaga negara juga ikut tersoroti.
Feri Amsari menyatakan bahwa kecurangan-kecurangan tersebut tidak terjadi secara spontan atau individu. Melainkan sebagian besar telah tersusun secara sistematis dan masif oleh kekuatan yang telah berkuasa selama satu dekade terakhir.
Menurut Zainal Arifin Mochtar, salah satu entitas yang memegang kendali menjalankan rencana yang telah tersusun tersebut. Identitas entitas tersebut adalah pihak yang saat itu berada di puncak kekuasaan, memiliki kemampuan untuk mengarahkan aparat dan mengontrol alokasi anggaran.
Menurut Bivitri Susanti, desain kecurangan dalam Pemilu 2024 sebenarnya bukanlah rencana yang luar biasa. Hal ini karena skenario serupa telah terjadi oleh rezim-rezim sebelumnya di banyak negara.
Dugaan Kecurangan Pemilu 2024
Ia menekankan bahwa untuk merancang dan menjalankannya, tidak perlu kecerdasan atau keahlian khusus, melainkan hanya mental yang culas dan memiliki rasa malu. Sebagai seorang dosen di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Bivitri Susanti menegaskan bahwa Pemilu 2024 tidak dapat kita anggap remeh.
Masyarakat perlu menyadari bahwa terjadi kecurangan yang luar biasa dalam pemilu tersebut. Film ini hadir dengan menggambarkan bagaimana para politisi memanipulasi rakyat demi kepentingan pribadi mereka.
Film tersebut juga menyoroti berbagai tindakan kecurangan yang terang-terangan dan publik mengetahui, namun tidak pernah mendapat tindakan. Penyalahgunaan kekuasaan yang terlihat jelas demi memenangkan pemilu malah merusak fondasi demokrasi.
Termasuk fokus pada kekuatan besar di balik pasangan calon Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming sebagai pihak yang paling banyak terlibat dalam kecurangan. Tiga narasumber dalam video tersebut menyampaikan data grafik mengenai kecurangan dalam Pemilu 2024.
Bivitri menyimpulkan bahwa video ini pada akhirnya menjadi catatan sejarah tentang keruntuhan demokrasi di Indonesia. Demikianlah informasi mengenai ringkasan dari film berjudul Dirty Vote yang kini menjadi sorotan publik. (*)





