Gaya Hidup

Berburu Kupat Jembut, Tradisi Unik Warga Semarang Sambut Syawalan

×

Berburu Kupat Jembut, Tradisi Unik Warga Semarang Sambut Syawalan

Sebarkan artikel ini
kupat jembut
Warga Kampung Jaten Cilik, Jalan Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, memadati halaman Masjid Roudhotul Muttaqin dalam rangka ikuti tradisi berburu kupat jembut. (Heru/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Ratusan warga Kampung Jaten Cilik, Jalan Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, memadati halaman Masjid Roudhotul Muttaqin selepas salat Subuh. Adapun hal ini dalam rangka mengikuti tradisi unik Syawalan: berburu Kupat Jembut.

Dengan membawa kantong plastik, anak-anak hingga orang dewasa berebut ketupat yang telah dibelah dua dan diisi sayuran serta uang. Kupat Jembut menjadi simbol perayaan hari ketujuh bulan Syawal setelah Idulfitri, yang dikenal dengan istilah Syawalan.

Sebelum perebutan mulai, tokoh agama memimpin doa bersama. Begitu petasan meledak sebagai tanda di mulainya acara, warga langsung menyerbu tumpukan ketupat unik tersebut. Suasana pun riuh dan penuh antusiasme.

BACA JUGA: Aki Mobil Korslet, Rumah Mewah di Semarang Ludes Terbakar

Tak hanya ketupat, warga juga membagikan uang receh kepada anak-anak. Mereka menabuh kentongan dari tiang listrik sebagai penanda, lalu anak-anak berhamburan mendatangi rumah-rumah yang membagikan uang.

“Saya senang banget, bisa dapat uang banyak dan kupat isi uang,” ujar Abid, salah satu anak yang ikut dalam tradisi ini.

Kupat Jembut miliki sejarah panjang

Imam Masjid Roudhotul Muttaqin, Munawir, menjelaskan bahwa tradisi Kupat Jembut bermula usai Perang Dunia II.

Saat itu, warga Pedurungan terpaksa mengungsi akibat serangan Sekutu. Setelah kembali ke kampung halaman pada tahun 1951, mereka merayakan kebersamaan dengan cara sederhana: membelah ketupat dan membagikannya sebagai simbol kembalinya kehidupan normal dan saling memaafkan usai Idulfitri.

“Ketupat yang di belah dua itu menandakan Idulfitri telah usai, dan masyarakat siap kembali ke rutinitas,” ungkap Munawir.

Pada era 1960-an, warga menabuh alat masak untuk mengumpulkan anak-anak, lalu membagikan petasan sebagai simbol perlawanan terhadap komunisme. Kupat Jembut sendiri mencerminkan kesederhanaan. Isinya hanya tauge dan sambal, melambangkan bahwa masyarakat harus menelan segala masalah dan kembali suci setelah Ramadan.

BACA JUGA: Pungli Berkedok THR Resahkan Warga di Pasar Kliwon Kudus, Ternyata Tradisi Tahunan

Kini, tradisi Syawalan Kupat Jembut tak hanya berlangsung di Jaten Cilik. Beberapa kampung lain di wilayah Kelurahan Pedurungan turut melestarikannya. Warga menyambut tradisi ini dengan tertib, sambil terus menanamkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan makna spiritual yang mendalam.

Dengan semangat kebersamaan dan nuansa kekeluargaan, tradisi ini menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal masih hidup dan mengakar kuat di tengah masyarakat Semarang. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp