Gaya Hidup

Berikut 4 Tradisi Unik Malam Nisfu Syaban di Indonesia, Daerahmu Seperti Apa?

×

Berikut 4 Tradisi Unik Malam Nisfu Syaban di Indonesia, Daerahmu Seperti Apa?

Sebarkan artikel ini
Bulan Syawal 2025 | keutamaan berpuasa
Ilustrasi orang berdoa. (Foto: Freepik)

SEMARANG, beritajateng.tv – Malam Nisfu Syaban menjadi salah satu momentum yang cukup istimewa bagi seluruh umat Islam.

Tak heran jika kita akan menemukan berbagai perayaan di malam tersebut dalam rangka meramaikannya.

Berikut ini beberapa kumpulan tradisi malam nisfu Syaban yang ada di Indonesia. Baca sampai selesai supaya kita bisa mengetahui keunikannya.

BACA JUGA: Berikut 5 Amalan Sunnah di Malam Nisfu Syaban, Lengkap dengan Jadwalnya 

Tradisi Malam Nisfu Syaban

Baratan

Di Jepara, Jawa Tengah, masyarakat masih melestarikan tradisi Nisfu Syaban yang berlangsung secara turun-temurun.

Tradisi ini terkenal dengan sebutan Baratan, yang berasal dari kata baraah dalam bahasa Arab, bermakna berkah atau keselamatan.

Melalui pelaksanaan Baratan, warga Jepara berharap memperoleh limpahan berkah di bulan Syaban agar mendapatkan kemudahan dan kenikmatan dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadan.

Punggahan

Punggahan merupakan tradisi yang berlangsung di masyarakat Salatiga dan wilayah sekitarnya sebagai bentuk penyambutan malam Nisfu Syaban.

Sejak sore hari, warga mulai berkumpul di masjid maupun lapangan untuk menggelar doa bersama, memohon limpahan rahmat dari Allah SWT.

Doa-doa tersebut juga mereka panjatkan khusus bagi keluarga dan kerabat yang telah wafat.

Suasana tradisi ini semakin semarak karena berakhir dengan acara makan bersama.

Momen tersebut masyarakat manfaatkan untuk saling berbincang dan mempererat tali silaturahmi.

Kupatan

Masyarakat Wonogiri, Jawa Tengah, memiliki tradisi kupatan sebagai bagian dari penyambutan malam Nisfu Syaban.

Tradisi ini telah berlangsung dari generasi ke generasi dan tetap terjaga hingga kini.

Kupatan bermakna sebagai wujud pengakuan kepada Allah SWT atas kesalahan yang pernah mereka perbuat.

Tradisi ini terisi dengan doa-doa permohonan ampun sekaligus menjadi sarana mempersiapkan hati menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Rangkaian kegiatan biasanya dimulai pada tanggal 15 Syaban dengan ditandai bunyi bedug dari masjid setempat.

Warga kemudian berkumpul sambil membawa hidangan berupa ketupat beserta lauk-pauknya. Acara dilanjutkan dengan doa bersama dan ditutup dengan makan bersama.

BACA JUGA: Benarkah Awal Ramadhan Jatuh pada Tanggal 1 Maret 2025? Berikut Versi Pemerintah

Ruwahan

Masyarakat Betawi memiliki tradisi Ruwahan sebagai bentuk penyambutan malam Nisfu Syaban.

Tradisi ini dilakukan dengan berkumpul bersama untuk memanjatkan doa bagi keluarga serta sanak saudara yang telah wafat.

Selain itu, Ruwahan juga menjadi penanda menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Hingga kini, tradisi tersebut masih dijaga oleh sebagian keluarga Betawi di Jakarta dan wilayah sekitarnya, sekaligus menjadi sarana mempererat tali silaturahmi. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp