“Melalui pameran ini kami ingin menampilkan hasil fasilitasi. Sekaligus memperkenalkan produk furnitur berorientasi halal kepada masyarakat dan calon pembeli,” ujarnya.
Tidak hanya menjadi ajang pameran, CJFACE 2026 juga menghadirkan berbagai kegiatan bisnis yang mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli, investor, hingga mitra potensial.
Pengunjung dapat mengikuti business to business (B2B) dan business to consumer (B2C) networking, konsultasi desain gratis, penawaran harga langsung dari pabrik, hingga menyaksikan proses pembuatan ukiran secara langsung.
Kegiatan tersebut harapannya mampu membuka peluang kerja sama baru, memperluas jaringan pemasaran, serta meningkatkan transaksi bagi pelaku industri furnitur dan kerajinan.
Selain promosi produk, penyelenggara juga menggelar edukasi ekonomi dan keuangan syariah kepada kalangan akademisi. Khususnya para dosen yang diharapkan menjadi mitra penyebarluasan literasi ekonomi syariah di Jawa Tengah.
Aspek pembiayaan juga menjadi perhatian dalam CJFACE 2026. Bank Indonesia memfasilitasi kegiatan business matching antara UMKM dan perbankan syariah agar pelaku usaha dapat memperoleh akses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan bisnis mereka.
Noor Nugroho berharap kolaborasi yang dibangun melalui CJFACE 2026 dapat memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Khususnya dalam meningkatkan daya saing furnitur dan seni ukir Jawa Tengah di pasar global.
“CJFACE harapannya menjadi ruang kolaborasi yang mampu memperluas pasar, meningkatkan transaksi, memperkuat akses pembiayaan. Dan mengembangkan ekosistem halal value chain secara berkelanjutan,” pungkasnya. (*)





