Jateng

19 Rumah Warga Retak Imbas Proyek Pakuwon dan Perbaikan Jalan Gombel Lama Semarang

×

19 Rumah Warga Retak Imbas Proyek Pakuwon dan Perbaikan Jalan Gombel Lama Semarang

Sebarkan artikel ini
19 Rumah Warga Retak Imbas Proyek Pakuwon dan Perbaikan Jalan Gombel Lama Semarang
Rumah warga retak akibat imbas pembangunan superblok Pakuwon dan Jalan Gombel Lama Semarang. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sedikitnya 19 rumah milik warga di RT 06 RW 05, Kelurahan Tinjomoyo, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, retak dan mengalami kerusakan pada dinding dan lantai imbas proyek Pakuwon.

Warga menduga kerusakan tersebut berkaitan dengan aktivitas dua proyek besar yang berlangsung bersamaan di kawasan Gombel, yakni pembangunan Superblok Pakuwon dan proyek perbaikan Jalan Turunan Gombel.

Sejumlah warga mulai mengkhawatirkan kondisi rumah mereka karena keretakan yang terus membesar dalam beberapa bulan terakhir.

Warga juga mengeluhkan debu dan suara bising dari aktivitas proyek yang berlangsung hampir setiap hari.

Salah satu warga terdampak, Parjono (70), menunjukkan sejumlah retakan yang muncul di berbagai bagian rumahnya. Mulai dari ruang tamu, kamar tidur hingga area belakang bangunan. Bahkan sebagian lantai rumahnya terlihat menggelembung sejak masifnya pembangunan proyek di kawasan Gombel Lama berjalan.

Parjono mengaku rumahnya memang pernah mengalami retakan kecil karena berada di kawasan yang terkenal akan tanah geraknya.

Namun, menurutnya, kondisi retak tersebut semakin memburuk sejak alat-alat berat mulai beroperasi dalam dua proyek besar yang berada tidak jauh dari permukiman warga.

BACA JUGA: Banyak Aduan Warga soal Proyek Pakuwon, DPRD Semarang Bakal Panggil Manajemen dan Distaru 

“Sebelumnya hanya garis-garis kecil. Sekarang retakannya semakin lebar dan semakin parah. Saya jadi khawatir karena temboknya mulai remuk,” ucap Parjono.

Parjono mengatakan aktivitas pembangunan superblok Pakuwon yang berjarak hanya selemparan batu dari rumahnya kerap berlangsung hingga larut malam. Ia juga sering merasakan kondisi tanah di sekitar rumahnya semakin labil, terutama saat hujan turun.

“Kadamg kalau malam sekitar jam 01.00 dini hari pas musim hujan itu sering terasa getaran dan terdengar suara krek-krek. Besoknya itu saya langsung cek ada retakan atau nggak,” paparnya.

Selain rumah miliknya, rumah anak Parjono yang berada tepat di samping juga mengalami kerusakan serupa. Retakan terlihat di sejumlah bagian dinding dan struktur bangunan.