Sementara itu, kata Icky, puncak musim hujan di Jawa Tengah prediksinya sebagian besar terjadi pada bulan Januari-Februari 2026 mendatang.
Musim Hujan 2025-2026 Lebih Lebat daripada Tahun Lalu
Selain prediksi waktu, Icky juga menyinggung potensi curah hujan pada 2025-2026 yang lebih lebat ketimbang periode sebelumnya. Berdasarkan kondisi atmosfer dan suhu muka laut, kata Icky, hujan tahun ini menurut prediksi lebih lebat ketimbang tahun lalu.
“Kalau untuk sekarang sih cenderung masih mirip-mirip, tapi kebanyakan condong ke normal hingga atas normal. Artinya hujan pada musim 2025-2026 ini cenderung sama atau sedikit lebih tinggi daripada normalnya,” jelasnya.
Ia menyebut faktor pemanasan suhu permukaan laut menjadi pemicu utama. Suhu yang lebih hangat mendorong proses penguapan lebih besar, yang pada akhirnya menambah curah hujan.
“Ketika anomali suhu permukaan laut positif atau lebih panas dari rata-rata, maka suplai uap air tersedia lebih banyak. Itu yang membuat jumlah curah hujan bisa meningkat,” tambahnya.
Kendati begitu, Icky menegaskan prediksi tersebut masih bisa berubah. BMKG Ahmad Yani akan terus memperbarui data sesuai perkembangan kondisi atmosfer ke depan.
“Ini masih berdasarkan untuk data saat ini. Jadi, ketika sudah ada pengamatan di masa-masa berikutnya, nanti akan selalu kami update perkembangannya,” pungkas Icky.
BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem
Sebelumnya, dalam keterangan tertulisnya, Stasiun Klimatologi Jawa Tengah menyebut prediksi musim hujan tahun ini umumnya maju lebih cepat daripada klimatologis.
Buku prediksi tahunan yang rilis September lalu menegaskan wilayah Dieng dan sekitarnya memang paling awal turun hujan, sedangkan pantura seperti Tegal, Pemalang, Pekalongan, Jepara, dan Pati menjadi wilayah paling akhir.
Tak hanya itu, ada beberapa daerah yang perkiraan mengalami musim hujan sepanjang tahun, seperti Purbalingga, Banyumas utara, sebagian wilayah selatan Pemalang dan Pekalongan, Banjarnegara barat, serta wilayah tenggara Tegal dan Brebes.





