“Semua pasti kita tangani dan itu sampai selesai. Karena kita ada pendampingan JPPA, ada juga Garpu Perak (Gerakan Pria Peduli Perempuan dan Anak). Makanya semua elemen masyarakat kita libatkan di situ,” kata dia.
Edy mengakui jika tahun 2023 lalu kasus kekerasan di Kota Semarang mencapai 227 kasus. Sedangkan di semester pertama 2024 ini, sudah menyentuh 155 kasus kekerasan. “Padahal kan masih satu semester tapi angkanya sudah tinggi. Untuk itu kita butuh kolaborasi temen-temen media untuk menginformasikan dan mengedukasi masyarakat,” imbuhnya. (*)
Editor: Elly Amaliyah





