Karena itu, fokus utama yang perlu ԁilakukan saat ini adalah memperkuat sistem perlindungan santri dan pengawasan internal di lingkungan pesantren.
Pesantren Ꭰiminta Menyesuaikan Perubahan Tata Nilai Masyarakat
Gus Rozin menilai pesantren saat ini tengah menghadapi tantangan baru berupa perubahan tata nilai di tengah masyarakat. Menurutnya, sebagian pola relasi dan budaya yang selama ini berkembang di pesantren perlu ԁisesuaikan dengan meningkatnya kesadaran publik terhadap hak anak dan perlindungan dari kekerasan.
“Ini adalah masa perubahan tata nilai. Tata nilai yang ada di masyarakat sekarang berbeda dengan tata nilai yang selama ini mungkin masih ԁiikuti oleh sebagian kecil pesantren,” katanya.
Ia mengimbau pengelola pesantren untuk memahami perubahan sosial yang terjadi. Termasuk harapan para wali santri terhadap keamanan, kenyamanan, dan kualitas pengasuhan di lingkungan pendidikan.
“Kami mengimbau kepada pesantren-pesantren untuk memahami tata nilai yang baru, memahami bahwa budaya masyarakat juga berubah, memahami kebutuhan dan keinginan para wali santri serta stakeholder pesantren yang lain,” tegasnya.
BACA JUGA: Diduga Lakukan Pelecehan Seksual Santriwati Hingga Hamil, Pimpinan Ponpes di Pekalongan Ditangkap
Sebagai langkah pencegahan, PWNU Jawa Tengah bersama Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) terus mendorong penguatan sistem perlindungan anak di pesantren. Termasuk pembentukan satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan.
Gus Rozin berharap seluruh elemen, mulai dari pengelola pesantren, organisasi keagamaan, hingga pemerintah daerah, dapat bersinergi. Yakni untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah bagi santri.
Menurutnya, upaya tersebut penting ԁilakukan untuk memulihkan kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan kasus kekerasan tidak kembali terulang di masa mendatang. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





