Politik

DEEP Indonesia Respons Wacana Pilkada Lewat DPRD: Langkah Mundur Demokrasi, Picu Oligarki Daerah

×

DEEP Indonesia Respons Wacana Pilkada Lewat DPRD: Langkah Mundur Demokrasi, Picu Oligarki Daerah

Sebarkan artikel ini
Pilkada DPRD
Direktur Democracy and Election Empowerment Partnerhsip Indonesia, Neni Nur Hayati. (Foto: Dok. DEEP Indonesia)

JAKARTA, beritajateng.tv – Direktur Democracy and Election Empowerment Partnerhsip (DEEP) Indonesia, Neni Nur Hayati, tegas menyoroti wacana pengembalian pemilihan kepala daerah (Pilkada) ke DPRD.

Sebelumnya, wacana tersebut mulai bergulir lewat koalisi partai-partai besar yakni Golkar, Gerindra, PKB, dan NasDem. Sementara PAN, PKS, dan Demokrat masih melakukan kajian mendalam. Hanya satu partai yang melakukan penolakan tegas atas wacana ini yakni PDIP.

DEEP Indonesia menilai usulan ini bukan sekadar solusi teknis atas biaya politik tinggi, melainkan sebuah ancaman serius terhadap kedaulatan rakyat yang telah diperjuangkan sejak era reformasi.

Pencabutan Mandat Rakyat Secara Paksa

Pilkada langsung ialah instrumen utama di mana rakyat memiliki kuasa penuh untuk menentukan nasib daerahnya. Mengembalikan pemilihan ke DPRD sama saja dengan memenjarakan hak suara rakyat di dalam gedung parlemen.

Deep Indonesia memandang ini sebagai bentuk elite capture, di mana kepala daerah nantinya tidak lagi berutang budi kepada konstituen, melainkan kepada segelintir pimpinan fraksi partai politik.

Biaya Politik Tidak Hilang, Hanya Berpindah Lokasi

Argumen bahwa Pilkada langsung boros anggaran adalah logika yang menyesatkan. Demokrasi memang berbiaya, karena itu adalah investasi untuk akuntabilitas.

Dengan mengalihkan pemilihan ke DPRD, biaya politik tidak akan hilang; ia hanya akan berpindah dari panggung terbuka ke “pasar gelap” transaksional di ruang-ruang tertutup.

Potensi politik uang justru semakin pekat karena kandidat hanya perlu melobi puluhan anggota dewan, bukan meyakinkan jutaan rakyat. Satu kursi bisa dihargai dengan biaya yang sangat tidak wajar.

BACA JUGA: Pilkada Langsung Picu Politik Uang Masif, Legislator Gerindra Jateng Dukung Kepala Daerah Dipilih DPRD

Laporan Dana Kampanye yang Jauh Dari Transparansi dan Akuntabilitas

Partai dan kandidat kerapkali mengeluh karena biaya politik mahal tetapi tidak pernah tercermin dalam laporan dana kampanye. Kandidat hanya melaporkan dana kampanye asal-asalan dan prosedural untuk menggugurkan kewajiban.

Temuan DEEP Indonesia di Pemilihan Serentak 2024, terdapat 13 temuan kandidat kepala daerah yang melaporkan Laporan Awal Dana Kampanye (LADK), Laporan Penerimaan Sumbangan Dana Kampanye (LPSDK) dan Laporan Penerimaan dan Pengeluaran Dana Kampanye (LPPDK) yang minim padahal sangat sering melakukan kampanye serta baliho dan spanduk terpasang di mana-mana.

Ketika yang menjadi alasan pilkada dipilih oleh DPRD adalah biaya politik yang mahal, maka solusinya bukan mengubah sistem pemilihan tetapi transparansi dana kampanye agar publik dapat melihat secara komperhensif termasuk menjawab dan membongkar apakah benar atau tidak ada mahar politik yang sudah ditetapkan di internal partai.

Risiko Disintegrasi dan Hilangnya Kontrol Publik

Berdasarkan pemantauan Deep Indonesia terhadap berbagai isu krusial di daerah—seperti penanganan bencana di Sumatera dan konflik sumber daya alam—kepala daerah yang terpilih langsung memiliki beban moral dan legitimasi untuk hadir di tengah rakyat.

Jika DPRD yang memilih, kepala daerah akan menjadi “petugas partai” yang lebih takut koalisi dewan copot daripada kena hujat rakyat yang sedang menderita.

Sentimen Pemberitaan dan Respon Percakapan di Ruang Publik

Merujuk data Deep Intelligence Research (DIR), yang melakukan penarikan data dari tanggal 27 Desember s.d. 3 Januari 2025 pukul 20.00 WIB dengan keyword Pilkada Tidak Langsung dan Pilkada Dipilih DPRD, terdapat 281 pemberitaan di media cetak, online, dan elektronik dengan sentimen positif 52%, 1% netral, dan 47% negatif.

Sementara dalam percakapan di media sosial, yaitu X, Facebook, Instagram, YouTube, dan TikTok dominan sentimen netral dan negatif.

Artinya Pilkada lewat DPRD ini elite partai dukung namun mendapat penolakan dari rakyat yang ter-capture dalam percakapan di media sosial.

Pernyataan DEEP Indonesia Mengenai Pilkada Lewat DPRD

Atas dasar hasil kajian kualitatif pemantauan di lapangan dan kuantitatif melalui media monitoring dan menganalisis percakapan publik di media, DEEP Indonesia menyatakan sikap sebagai berikut:

1. Hentikan Eksperimen Demokrasi yang Mundur dan Praktik Mahar Politik Partai Pengusung

Mengembalikan Pilkada lewat DPRD bukanlah solusi. Sebab, penyebab mahalnya biaya politik adalah adanya mahar politik, pembiayaan kampanye serta pembiayaan saksi.

Partai politik seharusnya fokus pada perbaikan sistem kaderisasi dan penekanan biaya kampanye, transparansi dan akuntabilitas dalam laporan dana kampanye, masif melakukan edukasi politik untuk rakyat, memperbaiki aspek manajemen Pilkada, memperkuat penegakan hukum bukan justru menghapus hak pilih rakyat.

2. Transparansi dan Akuntabilitas Publik

Mendesak partai-partai pengusung untuk membuka ruang dialog publik yang transparan. Termasuk hasil kajian ilmiah di internal partai bukan sekadar kesepakatan elite di balik pintu tertutup.

BACA JUGA: Legislator PKB Jateng Setuju Pilkada Tak Langsung: Kita Perlu Demokrasi Berbiaya Rendah

3. Penguatan Integritas Daerah

Meminta pemerintah untuk tetap menjaga marwah Pilkada langsung sebagai katup pengaman agar ketidakpuasan masyarakat daerah tidak meledak menjadi gerakan radikal akibat buntunya saluran aspirasi formal.

4. Mendengarkan Suara Rakyat

DEEP mendesak kepada para ketua umum partai politik untuk dapat mendengarkan suara rakyat. Sebab, partai dan para legislatif yang terpilih adalah mandataris rakyat sehingga lebih banyak mendengar adalah kemampuan terbaik dalam komunikasi.

“Pilkada oleh DPRD adalah pengkhianatan terhadap cita-cita reformasi. Kita tidak boleh membiarkan demokrasi kita menciut hanya karena alasan efisiensi semu yang justru memperkuat posisi oligarki di daerah.

Neni pun mengutip apa yang disampaikan oleh Lord Acton. “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely,” tegas Direktur DEEP Indonesia. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan lainnya lewat WhatsApp Channel beritajateng.tv dengan klik tombol berikut:
Gabung ke Saluran