“Selain pengupahan juga hari ini ekonomi hanya berputar di orang-orang terkaya di Indonesia doang. Artinya tidak menimbulkan perputaran uang ke bawah, dan kemudian ekonomi itu di bawah juga tidak berputar dengan lancar,” lanjutnya.
Majid juga menyinggung keluhan petani dan nelayan yang menurutnya kehilangan ruang hidup akibat berbagai kebijakan pembangunan. Ia menyebut aspirasi kelompok masyarakat tersebut belum mendapat respons langsung dari Gubernur Ahmad Luthfi.
“Sekarang petani semua marah. Nelayan semua marah karena banyak ruang hidupnya yang diambil oleh negara, yang diambil oleh aparat. Kemarin teman-teman nelayan, petani, dan masyarakat Jawa Tengah hadir di sini tapi Pak Luthfi tidak kunjung turun,” ucapnya.
Mahasiswa berharap pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah segera merespons berbagai tuntutan yang disampaikan. BEM Undip juga membuka kemungkinan menggelar aksi lanjutan apabila aspirasi mereka tidak ditindaklanjuti.
“Harapannya pemerintah bisa mendengar apa yang menjadi keresahan masyarakat. Pada hari ini krisis ekonomi sudah di depan mata,” tegas Majid.
Salah seorang peserta aksi, Michele, menilai kondisi ekonomi masyarakat saat ini berbanding terbalik dengan sejumlah kebijakan yang tengah dijalankan pemerintah.
“Negara sedang genting, rupiah anjlok, Pertamax naik, pemerintah malah sahkan RUU Polri,” serunya saat berorasi.
BACA JUGA: Petani Jateng Kritik Aparat Terlibat Food Estate: Jangan Sampai Trauma Orde Baru Terulang Lagi
Michele juga mengkritisi aturan yang memungkinkan anggota Polri aktif menduduki jabatan sipil serta mempertanyakan efektivitas program MBG. (*)
Editor: Farah Nazila





