SEMARANG, beritajateng.tv – Fenomena Tepuk Sakinah belakangan ramai di media sosial, terutama TikTok. Gerakan sederhana mirip tepuk tangan anak-anak itu ternyata memiliki filosofi mendalam tentang lima pilar keluarga sakinah.
Khoirul Burhan, Staf KUA Candisari sekaligus pemateri Bimbingan Perkawinan (Bimwin), menjelaskan bahwa metode ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukasi bagi calon pengantin.
“Sebenarnya yang pertama kali viral itu dari KUA di Banyuwangi kan. Lalu banyak KUA lain ikut menerapkan, termasuk di Semarang. Ini cara agar suasana kelas lebih enjoy, apalagi peserta kebanyakan anak muda usia 20-30 tahun,” jelas Khoirul saat beritajateng.tv hubungi pada Sabtu, 27 September 2025.
Menurut Khoirul, Bimwin kini wajib diikuti calon pengantin sesuai aturan Kementerian Agama. Pelaksanaannya bisa terlaksana secara mandiri maupun klasikal. Bimwin sendiri biasanya berlangsung setengah hari, sebelum hari akad nikah. Namun pelaksanaannya bisa berbeda di tiap KUA.
BACA JUGA: Istilah Manchild Viral di TikTok, Waspada Pria Ini di Dalam Hubungan Kamu!
Khoirul menilai, viralnya fenomena Tepuk Sakinah justru wajar di era media sosial.
“Sekarang apa yang trending diikuti banyak orang. Jadi wajar kalau ada yang menilai positif maupun negatif. Yang penting kami tetap menjelaskan filosofinya agar peserta tidak salah paham,” katanya.
Selama Bimwin, calon pengantin akan mendapatkan materi dari beberapa sumber. Seperti Puskesmas, terkait kesehatan reproduksi dan pencegahan penyakit menular. Kemudian BKKBN membahas program keluarga berencana. Adapun dari KUA, fokus utamanya adalah membangun keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
Di sinilah Tepuk Sakinah hadir sebagai metode ice breaking agar peserta lebih rileks. Menurutnya, penyuluh agama memang harus menyesuaikan gaya penyampaian dengan peserta.
“Kalau disampaikan dengan gaya formal terus-menerus, peserta cepat bosan. Dengan Tepuk Sakinah, suasana jadi lebih hidup, tapi materi tetap bisa masuk,” ujarnya.
Ice Breaking Namun Penuh Filosofi
Khoirul menegaskan, viralnya Tepuk Sakinah jangan sampai disalahartikan sebagai candaan semata.
“Banyak yang menganggap itu seperti permainan anak-anak. Padahal ada filosofi yang kuat di baliknya. Tepuk Sakinah dipakai agar calon pengantin lebih mudah memahami nilai sakinah dalam keluarga,” ujarnya.
Ia menambahkan, metode ini juga bentuk inovasi dakwah yang menyesuaikan perkembangan zaman.
“Sekarang apa yang trending di media sosial sering jadi perhatian masyarakat. Justru ini kesempatan untuk menyampaikan pesan baik dengan cara kreatif. Selama substansi bimbingan tetap terjaga, maka Tepuk Sakinah bisa jadi sarana efektif,” tutur Khoirul.
BACA JUGA: Viral Lagi! Pernyataan Tasya Farasya Soal Poligami Bikin Heboh usai Gugat Cerai Suami
Lebih dari sekadar tepuk tangan, Tepuk Sakinah menyimpan filosofi lima pilar rumah tangga islami. Pertama, Khoirul menjelaskan, Zawaj yang berarti berpasangan. Mitsaqan ghalidhan (janji kokoh), Mu’asyarah bil ma’ruf (saling berbuat baik), Musyawarah (berdiskusi dalam keluarga), dan yang terakhir Taradhin (saling rela dan menyenangkan). (*)
Editor: Farah Nazila





