”Tadi saya dengar ada yang suaranya bagus ketika bertanya di forum. Untuk itu kita harus tahu potensinya ke depan. Bisa jadi anchor atau penyanyi. Termasuk teman-teman yang akan merintis usaha lain,” terangnya.
Agar pengelolaan keuangan bisnis terpantau sehat oleh pihak bank, Supriyadi membagikan tips praktis bagi para pemula. Langkah fundamental yang wajib ԁiterapkan adalah pemisahan administrasi keuangan.
”Pisahkan uang usaha dan uang pribadi, agar bank mudah menganalisa arus kasnya. Selain itu, tentukan tujuan kredit secara jelas dan realistis, serta jaga integritas reputasi, dengan selalu membayar angsuran secara lancar sebelum jatuh tempo,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Supriyadi juga menjelaskan posisi perbankan sebagai lembaga intermediasi yang menyalurkan dana masyarakat dalam bentuk kredit, sesuai UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan.
Ia membedakan kredit menjadi dua kategori, yakni kredit produktif untuk pengembangan usaha dan kredit konsumtif untuk kebutuhan pribadi.
BACA JUGA: Sinergi di Magelang Fair 2026, Bank Jateng Dorong UMKM Naik Kelas Lewat Pembiayaan KUR
Dalam menilai kelayakan calon nasabah, Bank Jateng tetap konsisten menerapkan prinsip kehati-hatian 5C, yakni Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition of Economy.
Salah satu poin krusial yang ԁisampaikan Supriyadi adalah peringatan keras bagi mahasiswa mengenai perlindungan data pribadi, khususnya Kartu Tanda Penduduk (KTP).
Ia meminta agar generasi muda tidak meminjamkan identitas ԁiri kepada siapa pun untuk keperluan pengajuan kredit.
”Jangan pertaruhkan data ԁiri, karena rasa sungkan atau tidak enak dengan teman. Jika KTP ԁipinjam untuk utang dan kemudian kreditnya bermasalah, rekam jejak keuangan Anda akan buruk di Sistem Layanan Informasi Konsumen (SLIK) OJK,” tegasnya.
Ia menambahkan, catatan buruk pada SLIK OJK merupakan ancaman serius bagi masa depan karier maupun bisnis para generasi muda.
”Bayangkan, saat Anda nanti punya usaha yang sedang berkembang dan butuh modal dari perbankan, pengajuan kredit bisa langsung ԁitolak, karena KTP-nya pernah bermasalah di masa lalu. Peluang berkembang pun jadi hilang,” pungkasnya. (adv)





