Semarang, 20/9 (beritajateng.tv) – Pemerintah Kota Semarang mengantisipasi banjir sejak hari yang panjang. Kasie Manajemen dan Pengembangan Drainase Kantor Pekerjaan Umum Kota Semarang (DPU), Mochamad Hisam Ashari, mengatakan bahwa pengerukan sedimen dan lumpur di beberapa saluran air di wilayah yang memiliki banjir atau genangan. Pengerukan sedimen telah dilakukan sejak musim kemarau atau selama sekitar empat bulan lalu dan masih berlangsung.
Sejauh ini, ada 16 saluran air yang telah dikeruk oleh Wolter Monginsidi, Sringin Lama, penerimaan Lor, Sudiarto Brigadir, Tlogomulyo, Genuk Indah, Tawangsari, Anjasmoro, Wana Mukti, dan Meteseh.
Kemudian, pengerukan sedimen juga telah dilakukan di Sungai Seruni, ASIN Sungai, Bagian Kali Semarang, Kali Semarang Bandarharjo, tas lumpur veteran, dan tas lumpur Sriwijaya.
“Itulah yang kami jatuhkan menggunakan alat berat. Selain itu, kami jiga membuat pengerukan manual di sejumlah saluran air lainnya,” jelasnya.
Menurutnya, pengerukan sedimen di saluran besar dan sungai yang lebarnya dua meter atau lebih banyak dilakukan dengan menggunakan alat berat. Sementara itu, saluran kecil yang tidak dapat dihubungi menggunakan alat berat, petugas DPU mengeruk secara manual. Sudah lebih dari 50 saluran yang dilakukan pengerukan secara manual.
“Jika aksesnya kecil, seperti di daerah Tlogosari, kami tidak bisa menjangkau dengan alat berat karena manuver itu sulit. Petugas segera turun untuk membawa ember untuk mengeruk secara manual,” jelasnya.
Tidak hanya saluran, DPU juga membuat pengerukan di sejumlah embung antara lain di Muktiharjo, Meteseh, untungnya Suropati, dan Gatot Subroto. Embung ini adalah placeholder sementara selama musim hujan sehingga pengerukan perlu dapat menahan air secara maksimal.
“Selain pengerukan untuk menghadapi musim hujan, kami sebenarnya juga secara rutin melakukan saluran pembersihan dari sampah. Setiap hari, petugas kami membersihkan karena sampah mengakibatkan gangguan aliran,” tambahnya.
Hisam menambahkan, DPU Kota Semarang juga telah merehabilitasi sejumlah bakung yang telah rusak karena banjir di musim hujan. Dia mengaku, banjir yang terjadi di kota Semarang di musim hujan sudah cukup untuk membuat banyak tanggul rusak. Setidaknya, ada sekitar 60 titik tanggul yang diperbaiki untuk 2021.
“Tapi, itu perbaikan kecil, hanya memperbaiki titik yang rusak di sana, bukan perbaikan yang panjang,” tambahnya.
Secara terpisah, Walikota Semarang, kata Hendrar Prihadi, pemerintah kota telah menormalkan sejumlah saluran dan selokan. Antisipasi telah dilakukan oleh pemerintah kota sejak awal tahun.
Dia berharap pengerukan sedimentasi dan limbah yang telah dilakukan dapat mengantisipasi banjir di kota Lunpia.
“Insya Allah, semua telah melanjutkan. Mudah-mudahan mengantisipasi potensi banjir,” katanya.
Selain antisipasi potensi banjir, ia juga mengantisipasi potensi tanah longsor. DPU mengatakan dia telah memperbaiki semua talud pada titik yang pernah memiliki tanah longsor.
“Meski begitu, kami berharap komunitas akan berhati-hati. Di musim hujan, mereka masih harus waspada. Katakanlah jika hujannya berat, lebih baik pergi ke tetangga atau kerabat yang tempatnya tidak curam,” katanya. (AK / EL)





